• Subcribe to Our RSS Feed

Antara buang hajat dan resiko tersesat

Dengan suhu diatas rata-rata suhu di Indonesia, ditambah aktifitas fisik yang meningkat, tentu kebutuhan tubuh akan cairan juga berlipat. Minum air putih atau air zam-zam sebanyak mungkin, bukanlah tips yang tanpa alasan. Dan, produksi urine pun juga akan meningkat.

Drainage urine (baca: Buang Air Kecil – BAK, red) bukanlah hal yang istimewa. Tapi, bagaimana jika dilakukan di masjidil haram yang selalu dipenuhi oleh jutaan umat muslim sedunia? Tentu bukan perkara mudah, kan?
Selain jumlah toilet terbatas, sehingga selalu penuh dan antri, juga karena letaknya yang diluar gedung utama, membuat jamaah sering lupa jalan mana yang harus ditempuh untuk kembali ke rombongan. Tak ayal lagi, terpisah dari rombongan hingga tersesat pun, menjadi resiko terbesar!

Berikut adalah tips terkait penggunaan toilet di masjidil haram:
1. Jangan biarkan keluarga anda ke toilet sendirian, terutama para lansia
2. Hindarkan minum obat “diuretik” (biasanya digunakan sebagai obat anti hipertensi) sebelum ke masjidil haram
3. Hindarkan minum kopi atau teh sebelum ke masjidil haram, karena kandungan yang ada di kopi/teh mempunyai efek diuresis
4. Hindarkan ke toilet saat mendekati kumandang adzan, karena begitu anda selesai buang hajat, pintu masuk masjidil haram akan semakin penuh, bahkan anda bisa dihadang oleh polisi penjaga masjid.
5. Jika memungkinkan, carilah toilet diluar masjidil haram, misalnya di lantai dasar hotel Grand Zam Zam yang menyediakan toilet bersih 24 jam di lantai 1-4.
6. Jangan lupa mensucikan diri dengan berwudlu, begitu selesai melaksanakan BAK
7. Buat anda penderita Diabetes Mellitus (kencing manis), jangan biarkan gula darah anda meningkat diatas normal, karena akan menyebabkan gejala Poliuria alias sering kencing.

Share