• Subcribe to Our RSS Feed

ASMA: BENARKAH TIDAK BISA DISEMBUHKAN?

Jun 7, 2017 by     No Comments    Posted under: Child Health

ASMA:
BENARKAH TIDAK BISA DISEMBUHKAN?

Sudah dua kali dalam sebulan ini, Rafi (5 tahun) berkunjung ke dokter dengan keluhan yang sama: SESAK NAPAS. Saat asyik bermain rubik, tiba-tiba nafas Rafi terasa sesak disertai bunyi mengi atau ngik-ngik, dada seperti tertekan beban berat, dan batuk pun tak bisa terelakkan. Diagnosis dokter saat itu adalah ASMA
Karena sakit Asma nya ini, Rafi jadi sering absen ke sekolah dan angka kunjungan ke dokterpun meningkat.

Apakah asma itu? Benarkah asma itu penyakit turunan? Apa saja yang bisa memicu kekambuhan asma? Apa yang harus dilakukan orang tua jika anaknya tiba-tiba asma? Benarkah penderita asma harus pantang makanan tertentu? Bisakah Asma disembuhkan?

World Health Organization (WHO) memperkirakan 235 juta manusia saat ini menderita Asma, yang merupakan penyakit tidak-menular yang paling sering terjadi pada usia anak-anak, walaupun sebenarnya penyakit asma bisa diderita oleh semua umur, baik dewasa maupun anak-anak. Di seluruh dunia, didapatkan 11-14% anak-anak diatas 5 tahun pernah mengalami gejala asma. Meskipun tidak menempati peringkat atas penyebab kesakitan atau kematian pada anak, asma merupakan masalah kesehatan yang penting. Jika tidak ditangani dengan baik, asma dapat menurunkan kualitas hidup anak, membatasi aktivitas sehari-hari, mengganggu tidur, meningkatkan angka absensi sekolah, dan menyebabkan penurunan prestasi akademik.

Asma adalah penyakit saluran pernapasan dimana terjadi keradangan kronik (berlangsung lama) pada saluran pernapasan yang mengakibatkan obstruksi dan hiperreaktivitas saluran napas, dengan derajat keparahan yang bervariasi, mulai ringan hingga berat. Gejala asma antara lain: sesak, batuk, dada terasa tertekan dan nafas berbunyi “ngik-ngik” atau mengi (istilah kedokteran: wheezing). Gejala-gejala tersebut timbul secara kronik dan atau berulang, reversibel (bisa kembali normal), cenderung memberat pada malam atau dini hari dan biasanya timbul jika ada “pencetus”

Asma merupakan penyakit yang multifaktorial dengan perjalanan penyakit yang bervariasi pada setiap anak dan dapat berubah seiring perjalanan waktu. Asma TIDAK dapat disembuhkan, tapi bisa dikendalikan agar gejala tidak sering kambuh
Asma bisa menyerang anak usia berapa? Benarkah Asma penyakit yang diturunkan oleh orang tua?
Asma bisa terjadi pada usia berapapun, tetapi paling sering berawal saat anak usia dini. Asma terjadi sebagai hasil interaksi antara “faktor genetik” atau keturunan dan “lingkungan”. Para pakar menyebutkan bahwa faktor “lingkungan” yang dimaksud adalah infeksi, pajanan mikroba, alergen (zat yang memicu terjadinya alergi), stress, polusi dan asap tembakau. Upaya penatalaksanaan penderita Asma yang terpenting adalah mengidentifikasi faktor-faktor “lingkungan” yang dapat dimodifikasi untuk pencegahan.

Ada berapa jenis asma yang biasanya diderita anak-anak?
Ada beberapa pengelompokan asma pada anak, namun yang terpenting dan berefek pada penatalaksanaannya, ada 2 klasifikasi Asma, yaitu berdasarkan “kekerapan timbulnya gejala” dan berdasarkan “derajat beratnya serangan”
Berdasarkan kekerapan timbulnya gejala, Asma dibagi menjadi: Asma intermiten, Asma persisten ringan, Asma persisten sedang dan Asma persisten berat

  • Asma intermiten:  jika episode gejala asma < 6 kali dalam setahun, atau jarak antar timbulnya gejala >= 6 minggu.
  • Asma persisten ringan: jika episode gejala asma > 1 kali dalam sebulan, < 1 kali seminggu.
  • Asma persisten sedang: jika episode gejala asma > 1 kali seminggu, namun tidak setiap hari.
  • Asma persisten berat: jika episode gejala asma terjadi hampir tiap hari.

Berdasarkan derajat beratnya serangan, asma dibedakan menjadi: Asma serangan ringan-sedang, Asma serangan berat dan Serangan asma dengan ancaman henti napas. Klasifikasi berdasarkan derajat serangan ini, digunakan oleh dokter sebagai dasar penentuan tata laksana.

  • Asma Serangan Ringan-Sedang: apabila anak masih bisa bicara dalam kalimat, lebih nyaman duduk daripada berbaring, tidak gelisah, frekuensi napas meningkat, frekuensi nadi meningkat, ada tarikan dinding dada saat anak menarik napas, saturasi oksigen dengan udara kamar 90-95% (pemeriksaan khusus dengan alat pulse oximeter, biasanya dilakukan di UGD)
  • Asma Serangan Berat: jika saat serangan, anak hanya bisa bicara dalam kata, lebih nyaman duduk bertopang tangan, gelisah, frekuensi napas meningkat, frekuensi nadi meningkat, ada tarikan dinding dada yang sangat jelas saat anak menarik napas, saturasi oksigen dengan udara kamar di bawah angka 90%
  • Asma dengan Ancaman Henti Napas: jika didapatkan tanda seperti asma serangan berat, ditambah adanya kondisi anak tampak mengantuk, lemah dan suara napas tak terdengar

 

Bagaimanakah penatalaksanaan Asma pada Anak?
Pengelolaan kasus asma pada anak tidak hanya bertujuan untuk mengurangi gejala asma yang timbul, tapi juga bertujuan agar aktivitas penderita asma bisa berjalan normal (termasuk bermain, ke sekolah dan berolahraga) dan meminimalkan konsumsi obat. Sehingga diharapkan bisa menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang anak secara optimal.
Basicly, penatalaksanaan Asma bisa digolongkan menjadi 2, yaitu tatalaksana dengan obat-obatan (medikamentosa) dan tatalaksana non-farmakologis (non-medikamentosa)
Obat-obatan untuk asma digolongkan menjadi obat pereda (reliever) dan obat pengendali (controller)
Obat pereda ditujukan terutama untuk meredakan gejala serangan asma secepat mungkin. Obat-obat ini sebaiknya diberikan secara “inhalasi” atau nebulisasi atau penguapan karena lebih minim efek samping. Obat pereda serangan asma yang sering digunakan untuk nebulisasi adalah jenis “Salbutamol”. Obat ini digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma bila sedang kambuh. Bila serangan sudah teratasi dan gejala tidak ada lagi, maka pemakaian obat ini dihentikan.
Sedangkan obat pengendali (controller) asma ditujukan untuk mencegah serangan asma. Biasanya obat ini digunakan dalam jangka panjang dan relatif lama. Obat pengendali asma yang paling sering digunakan adalah steroid inhalasi.
Untuk pemilihan serta indikasi pemberian obat reliever dan controller asma, sebaiknya orang tua berdiskusi secara intens dengan dokter
Jika anak mengalami asma, apa yang dilakukan oleh orang tua? Pertolongan pertamanya apa saja?
Yang terpenting adalah kesadaran orang tua bahwa anaknya menderita asma, yang sewaktu-waktu bisa terjadi serangan mendadak. Selain itu orang tua harus mengenali gejala dan tanda serangan asma. Ketersediaan alat nebulizer di rumah menjadi sangat penting dalam hal ini. Berikan nebulisasi segera dengan obat golongan salbutamol. Jika serangan asma tergolong berat, atau ringan tapi dengan pemberian nebulisasi salbutamol di rumah, tidak didapatkan perbaikan, sebaiknya segera dibawa ke UGD terdekat. Beberapa pakar memberikan batasan yang tegas: Jika setelah dilakukan inhalasi dua kali tidak memberikan respon yang baik, maka dianjurkan untuk mencaari pertolongan medis di klinik atau rumah sakit.
Tata laksana “asma dalam serangan” yang dilakukan di rumah ini PENTING agar penderita segera mendapatkan pertolongan dan mencegah terjadinya serangan yang lebih berat. Namun, pada kondisi tertentu penderita asma harus segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan, tidak menunggu respon terapi di rumah, apabila: penderita mengalami serangan asma berat (sesak berat).

Yang tidak kalah penting adalah peran orang tua dalam mengendalikan penderita terhadap paparan allergen yang mencetuskan serangan asma. Beberapa ahli berpendapat bahwa serangan asma dapat terjadi akibat 2 faktor: kegagalan dalam pengobatan medikamentosa jangka panjang dan kegagalan menghindari factor pencetus

Berikut beberapa faktor pencetus asma yang wajib dihindari:

  1. Tungau debu rumah
  2. Asap rokok
  3. Kecoa
  4. Serbuk sari/ pollen
  5. Jamur
  6. Rontokan hewan peliharaan
  7. Tikus
  8. Hirupan zat-zat kimia (obat nyamuk bakar, obat nyamuk semprot, obat nyamuk elektrik, asap kayu bakar, asap bakaran sampah, polusi pabrik, asap kendaraan dll
  9. Allergen makanan (paling sering: susu sapi, telur, ikan, ayam, kacang, ragi, keju, gandum, coklat)
    Infeksi saluran napas atas (rhinitis, sinusitis dll) dan infeksi virus lainnya
  10. Olah raga yang berlebihan
  11. Obesitas
  12. Lain-lain: menghindari perubahan musim, suhu AC yang terlalu dingin, stress emosional dan alergen obat-obatan tertentu.

Anggapan bahwa asma bisa dikendalikan hanya dengan obat-obatan akan membuat penyakit asma semakin parah karena penghindaran factor pencetus ini merupakan upaya UTAMA dalam tata laksana asma. Dengan penghindaran factor pencetus yang tepat, sebagian besar asma dapat dikendalikan tanpa obat-obatan.

 

Asma pada Balita
Diagnosis asma pada anak dibawah usia 5 tahun, sulit ditegakkan. Napas mengi (wheezing) berulang yang merupakan gejala khas asma, ternyata bisa juga muncul pada infeksi saluran napas karena virus, terutama pada anak < 2 tahun. Kekerapan dan lamanya bunyi napas mengi, ditambah dengan riwayat alergi pada keluarga, menjadi petanda penting asma pada balita. Karena sulitnya diagnosis asma pada balita ini, GINA (Global Initiative for Asthma) membaginya menjadi 3 kelompok yaitu: “mungkin bukan asma”, “mungkin asma” dan “sangat mungkin asma” Kategori “mungkin asma” apabila didapatkan gejala asma (batuk, mengi dan sulit bernapas) kurang dari 10 hari, terjadi serangan 2-3 episode dalam setahun, tidak ada gejala diantara 2 episode , tidak ada riwayat alergi pada pasien dan tidak ada riwayat Asma pada keluarga Sedangkan digolongkan kategori “mungkin asma” apabila didapatkan gejala asma (batuk, mengi dan sulit bernapas) lebih dari 10 hari, terjadi serangan > 3 episode dalam setahun, terjadi perburukan saat malam hari, mungkin didapatkan gejala batuk, mengi, sulit bernapas, diantara 2 episode , riwayat alergi pada pasien dan riwayat Asma pada keluarga: bisa ada atau tidak.
Kategori terakhir “sangat mungkin asma” apabila didapatkan gejala asma (batuk, mengi dan sulit bernapas) lebih dari 10 hari, terjadi serangan > 3 episode dalam setahun, terjadi perburukan saat malam hari, mungkin didapatkan gejala batuk, mengi, sulit bernapas, diantara 2 episode, ada riwayat alergi pada pasien atau riwayat asma pada keluarga
Pembagian kelompok asma diatas, menunjukkan bahwa asma pada balita merupakan suatu spektrum yang dinamis. Seorang pasien bisa berubah posisinya (dari “mungkin asma” menjadi “sangat mungkin asma” dst) seiring waktu.
Kembali ke judul tulisan ini “Benarkah Asma tidak Bisa Disembuhkan?” Benar, penyakit asma TIDAK dapat sembuh, tapi bisa dikendalikan. Pengendalian asma mencakup penatalaksanaan asma pada saat serangan, penghindaran terhadap faktor pencetus dan edukasi orangtua tentang penyakit asma itu sendiri.

Share