• Subcribe to Our RSS Feed

Defekasi Pada Anak dan Bayi

Jun 27, 2013 by     No Comments    Posted under: Baby Care, Child Health

defecation1

Defekasi atau Buang Air Besar atau “pup” adalah suatu proses evakuasi tinja dari dalam rektum (usus besar bag bawah). Tinja adalah bahan yg tidak digunakan lagi dan HARUS dikeluarkan dari dalam tubuh

 

Pola defekasi pd anak sangat bervariasi tergantung dari fungsi organ, susunan saraf, pola makan serta usia anak Pola defekasi tidak hanya menyangkut frekuensi defekasi, tapi juga masalah konsistensi (tingkat kepadatan tinja) dan warna tinja

 

Frekuensi defekasi pada bayi baru lahir lebih sering dibandingkan bayi atau anak yang lebih tua usianya. Hal ini disebabkan oleh beberapa organ dan enzim yang berperan dalam proses pencernaan zat makanan (karbohidrat, lemak, dan protein) belum berfungsi secara optimal. Aktivitas enzim ini akan bertambah sesuai dengan bertambahnya usia.

 

Aktivitas amilase (enzim pencerna karbohidrat) yang optimal akan tercapai pada usia 12 bulan, lipase (enzim pencerna lemak) mencapai kadar seperti orang dewasa pada usia 24 bulan, sedangkan aktivitas tripsin (enzim pencerna protein) pada bayi baru lahir sudah sama dengan orang dewasa.

 

Bayi normal lebih mudah mencerna dan menyerap lemak yang berasal dari ASI dibandingkan lemak susu sapi atau susu formula, disebabkan ASI mengandung lipase.

 

Selain lipase, ASI juga mengandung amilase dan protease; oleh karena itu sangat penting dan bermanfaat untuk tetap memberikan ASI pada bayi. Pada bayi baru lahir, aktivitas laktase belum optimal shg kemampuan mencerna laktosa yg terkandung di dalam ASI maupun sufor juga terbatas.

 

Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan osmolaritas di dalam lumen usus halus yang mengakibatkan peningkatan frekuensi defekasinya.

 

Defekasi pada bayi baru lahir diawali dengan keluarnya mekonium.

Mekonium adalah tinja yang berwarna hitam, kental dan lengket, yang merupakan campuran sekresi kelenjar intestinal dan cairan amnion. Pada keadaan normal, mekonium akan keluar pada 36 jam pertama setelah lahir sebanyak 2-3 kali setiap harinya.

 

Pada bayi yang mendapat ASI, kolostrum berperan sebagai laksatif alami yang membantu mendorong mekonium keluar dari tubuh. Kolostrum mulai diproduksi pada akhir kehamilan dan tetap bertahan hingga empat hari setelah kelahiran.

 

Selanjutnya kolostrum akan diganti oleh ASI peralihan yang berlangsung selama 7-14 hari, pada saat ini warna tinja berubah menjadi coklat dan tidak lagi lengket sehingga bila mengenai kulit mudah dibersih- kan. Sedangkan frekuensi defekasi bervariasi antara 1-7 kali perhari.

Setelah ASI peralihan berubah menjadi ASI (yang sebenarnya) warna feses cenderung berubah lagi menjadi berwarna kuning dengan konsistensi lembek.

 

Pada bayi yang mendapat pengganti ASI (PASI), feses yang terbentuk biasanya lebih kental dan warnanya lebih kehijauan, dan frekuensi defekasinya lebih jarang dibandingkan bayi yang hanya mendapatkan ASI saja

 

Pada anak usia prasekolah ke atas, pola defekasi tergantung pola makanannya. Anak yang banyak makan makanan berserat, defekasinya lancar, tidak keras, dan teratur. Sedangkan anak yang tidak suka makan makanan berserat, mempunyai pola defekasi dengan tinja yang keras. sehingga tidak jarang menimbulkan rasa sakit pada saat defekasi yang akhirnya dapat menyebabkan konstipasi.  

 

Perubahan pola defekasi dapat merupakan pertanda adanya suatu kelainan yang harus diwaspadai. Dua keadaan yang sering dihubungkan dengan perubahan frekuensi defekasi dan konsistensi tinja adalah konstipasi dan diare

 

Konstipasi adalah (1) frekuensi defekasi kurang dari 3 kali seminggu, atau (2) defekasi dengan tinja yang keras, atau (3) teraba massa tinja pada perut kiri bawah, atau (4) teraba tinja yang keras pada pemeriksaan colok dubur.

 

Istilah diare pada anak digunakan bila ditemukan perubahan pola defekasi yang ditandai dengan peningkatan frekuensi defekasi (lebih dari 3 kali sehari) dan konsistensi tinja yang cair

 

Bagaimana dengan warna tinja bayi/anak?

 

Warna tinja normal pada anak secara umum adalah kuning/coklat yang disebabkan oleh derivat bilirubin yaitu urobilin dan sterkobilin. Pada anak yang mendapat PASI tidak jarang tinjanya berwarna kehijauan.

 

Apabila seorang anak memperlihatkan warna tinjanya di luar seperti yang disebutkan di atas, perlu dipikirkan kemungkinan adanya suatu kelainan. Tinja dapat berwarna seperti dempul karena tidak adanya

derivat bilirubin. Apabila keadaan ini terjadi, dapat dipikirkan kemungkinan adanya gangguan pada sistem hepatobilier. Tinja yang berwarna kemerahan atau kehitaman dapat diasumsikan adanya perdarahan saluran cerna. Warna tinja kehijauan ternyata tidak saja terjadi pada anak yang mendapat PASI tetapi dapat pula terjadi pada anak yang menderita diare koleroik. Selain itu ada juga tinja yang menyerupai air cucian beras yang merupakan gejala khas untuk penyakit kolera

Share