• Subcribe to Our RSS Feed

Detik-detik jelang Sayonara Mina

Mina, 12 Dzulhijjah 1432, ba’da Ashar

Segera setelah lempar jumroh, kami pun makan siang seadanya, sholat dhuhur – ashar (jama’-qhosor), siap untuk berangkat menuju Mekkah…

Tanpa menyia nyiakan waktu, kami pun segera berkumpul dipintu gerbang yang selalu tertutup rapat,  menunggu bus jemputan. Kami pun dibuat sport jantung karena bus tak kunjung datang, sementara sebelum adzan maghrib, kami harus sudah meninggalkan kota mina. Kalau tidak, kami harus menginap 1 malam lagi di Mina dan melakukan lempar jumroh lagi (Nafar Tsani)

Jam menunjukkan Pk 16.00 WAS. Para jamaah pun makin gelisah… Bahkan ada yang berusaha kembali ke tenda, tapi dicegah oleh karu/karom. Sejurus kemudian datanglah 3 armada bus menjemput kami… Tanpa babibu lagi, kami segera berebut naik ke bus.

Bus yang mengantar kami ternyata bukanlah bus standart yang biasa kami gunakan. Kapasitas bus hanya sekitar 40-an, itu pun harus kami isi dengan 60 jamaah. Pikir kami, tak apalah berjejalan di bus, toh hanya 30 km saja jarak tempuh Mina – Mekkah. Daripada harus nafar tsani?

Memasuki bus (kebetulan penulis mendapat tempat duduk nomer 2 dari belakang sebelah kiri), bau tak sedap segera menyergap kami. Tapi seketika hilang ditelan semangat kami yang menggebu… Seolah hilang, diterjang kerinduan kami thd kota Mekkah dan masjidil haram.

Bus pun berjalan perlahan… Pelan, makin pelan… Pemandangan disekitar kota Mina membuat selera tidur kami hilang, karena tampak banyak sekali bus berjejalan dipinggir jalan, berselingan dengan tumpukan sampah yang entah berapa ton beratnya… Teringat olehku, mengapa sampah begitu banyak disini? Ya, karena banyaknya barang disposible yang digunakan selama di Mina. Mulai dari botol tempat minum, gelas, piring, sendok dan entah apalagi! Benar-benar tidak ramah lingkungan… Ah, itu hanya sebagian dari retaknya gading gajah, elakku…

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 WAS tapi kami masih belum keluar juga dari kota Mina, macet dimana-mana… Seluruh jamaah pun terlihat mulai gelisah. Apalagi dalam kondisi lapar dan haus, karena tak membawa bekal.  Banyak diantara  kami yang berkali-kali melihat jam tangannya. Jalanan pun mulai sedikit lancar. Kemacetan pun mulai terurai…

Adzan maghrib berkumandang, dan… Alhamdulillah, kami sudah tidak berada di kota Mina. Segera terbayang olehku keindahan kota Mekkah… Gedung-gedung bertingkatnya yang laksana jamur di musim hujan… Apalagi kalau malam begini, lampu-lampu kota, lampu gedung, lampu hias, semua berlomba menyambut kedatangan kami… Belum lagi toko-toko yang menjual beragam oleh-oleh yang selalu ramah menyambut kami “Indonesia bagus… Indonesia Murah…” Begitulah cara pedagang disana menyambut kami…
Ah… Rindu ini sudah tak tertahankan lagi…

Tapi… Ups! Para penumpang pun mulai merasakan penat bercampur gerah karena panas… Olala,

Share