• Subcribe to Our RSS Feed

DIFTERI: ZOMBIE ZAMAN NOW

Jan 12, 2018 by     No Comments    Posted under: Child Health

 

DIFTERI: ZOMBIE ZAMAN NOW

Belakangan ini kita dikejutkan dengan berita maraknya penderita difteri termasuk beberapa korban meninggal. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pun mengeluarkan status “Kejadian Luar Biasa” alias wabah. Terlepas dari besarnya korban KLB difteri, kejadian ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua, bahwa difteri tetaplah difteri yang bikin ngeri! Difteri tetaplah difteri yang pencegahan efektif nya hanya ada satu jalan: IMUNISASI. Dan wabah difteri ini seperti membuka mata semua orang bahwa fenomena zombie masa kini telah terpampang nyata di hadapan kita. Ya, difteri memang dikenal sebagai penyakit yang SANGAT menular. Begitu ada satu penderita difteri, maka ia akan mencari mangsa berikutnya, terutama anak-anak yang belum pernah diimunisasi atau yang status imunisasinya tidak lengkap.

Dan yang mencengangkan, KLB difteri ini menunjukkan bahwa program imunisasi di Indonesia masih belum berhasil. Masih banyak hambatan dan tantangan yang harus segera diselesaiakan, tentu saja ini tugas berat bagi jajaran Kemenkes RI dan membutuhkan partisipasi aktif dari semua jajaran masyarakat.
Apa “istimewa”nya penyakit difteri?
Penyakit difteri memang bukan sembarang penyakit menular. Dari perjalanan panjang peradapan manusia (epidemi difteri terjadi pertama kali pada 6 SM), penyakit difteri dikenal sebagai penyakit yang menular dan mematikan. Selain sumbatan jalan napas atas (tenggorokan), penyebab kematian karena difteri ini adalah komplikasi toksin difteri yang beredar ke seluruh tubuh dan bisa menyebabkan myocarditis (radang jantung), gagal ginjal akut dll. Setelah ditemukannya vaksin difteri, angka kejadian penyakit ini sebenarnya sudah sangat menurun dan di beberapa negara sudah tidak ditemukan lagi. Kemunculannya kembali, menunjukkan bahwa angka cakupan imunisasi masih harus ditingkatkan karena hingga kini diyakini bahwa imunisasi adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai penularan difteri, dan ini sudah teruji dan terbukti secara klinis.
Penyakit difteri adalah penyakit yang kompleks, butuh penanganan holistik yang melibatkan multiprofesi. Tidak hanya dokter spesialis anak (dan dokter spesialis penyakit dalam untuk penderita dewasa), tapi juga melibatkan dokter ahli bedah dan THT untuk melakukan tindakan tracheostomy (membuat jalan napas buatan pada dinding depan trakea), dokter ahli jantung anak untuk menangani radang jantung yang seringkali membutuhkan pemasangan alat pacu jantung, dan juga melibatkan ahli epidemiologi untuk memetakan jalur penularan penyakit difteri. Selain itu peranan jajaran paramedis, petugas laboratorium patologi klinik dan ahli mikrobilogi juga tidak boleh dianggap remeh. Koordinasi dan kerjasama tim tentu saja menjadi hal yang teramat penting.
Penanganan penyakit ini membutuhkan obat-obatan yang cukup mahal dan terkadang sulit dicari. Sedangkan kecepatan dan ketepatan penataksanaan menjadi salah satu kunci keberhasilan.
Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Begitu menularnya, hingga setiap penderita difteri harus dirawat di ruangan isolasi yang sangat ketat, yang kalau memasuki ruangan tersebut harus menggunakan gaun khusus, penutup kepala khusus, masker dan bahkan kacamata khusus. Orang dewasa sehat yang sudah kebal justru akan menjadi silent carrier yang berpotensi menularkan ke anak-anak disekitarnya.
Kenali Gejala dan Tanda Difteri

Sebagai penyakit yang menduduki peringkat atas dalam hal daya tular nya, difteri mempunyai gejala dan tanda klinis yang khas. Seorang dokter bisa membuat diagnosis difteri hanya dengan menganalisa gejala dan melakukan pemeriksaan klinis. Hanya saja kepastian diagnosis ditentukan dari pemeriksaan laboratorium yaitu kultur jaringan (uji usap tenggorok) atau PCR (Polymerase Chain Reaction).
Dimulai dengan gejala demam yang tidak terlalu tinggi, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri telan, suara serak hingga menunjukkan gejala sumbatan jalan nafas atas yang mula-mula ringan berupa mendengkur (padahal biasanya tidak pernah tidur mendengkur), mengeluarkan air liur alias ngiler atau ngeces, dan akhirnya memberat, berupa timbulnya suara stridor yaitu suara napas yang terdengar kasar seperti suara mendengkur.
Dari riwayat imunisasi didapatkan status imunisasi yang tidak lengkap atau bahkan tidak pernah diimunisasi sama sekali.
Riwayat “kontak erat” dengan penderita difteri bisa menjadi petunjuk penting. Yang dimaksud kontak erat adalah orang serumah dan atau individu yang seruang dengan penderita dalam waktu > 4 jam selama 5 hari berturut-turut atau > 24 jam dalam seminggu, misalnya teman bermain, teman sekolah, teman mengaji, teman les dll.
Tanda klinis yang KHAS dari difteri ini adalah ditemukannya selaput putih keabuan di tempat infeksi. Karena 94% kuman difteri menyangkut di tenggorokan (sisanya bisa di hidung dan kulit yang terluka), maka selaput difteri ditemukan di tenggorokan, tepatnya di selaput lendir tenggorokan.
Selaput yang dimaksud disebut Pseudomembran. Selain berwarna putih keabuan, pseudomembran mempunyai ciri khusus yaitu: mudah berdarah jika diangkat, dan baunya khas.
Pada kasus yang berat dapat ditemukan tanda klinis yang juga khas yaitu bull neck yang ditandai dengan pembengkakan daerah leher disertai pembesaran kelenjar getah bening.
Jika seorang penderita dinyatakan positif difteri maka harus segera rawat inap di ruang isolasi khusus untuk dilakukan serangkaian pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan yang cukup rumit. Pemeriksaan penunjang yang penting adalah pemeriksaan swab tenggorokan atau uji usap tenggorokan, dimana tenggorokan dan hidung penderita akan di swab dengan alat khusus dan segera dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk dilakukan kultur. Swab tenggorokan dilakukan pada hari ke-1, ke-2 dan ke-7. Selain penderita, swab tenggorokan juga dilakukan pada semua anggota keluarga yang serumah dan mereka yang kontak erat.

Penyebab Difteri
Pembahasan tentang penyakit difteri tidak pernah lepas dari sosok makhluk yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop ini, yaitu Corynebacterium diphtheriae yang hanya bisa hidup di tubuh manusia tanpa memerlukan perantara.
Penderita difteri akan menularkan penyakitnya melalui percikan air ludah dan akhirnya terhirup oleh orang disekitarnya dan akan hinggap pada tenggorokan. Pada individu yang belum punya kekebalan (baca: belum pernah diimunisasi atau status imunisasinya tidak lengkap) terhadap bakteri berbentuk club-shape ini, maka kuman difteri ini akan hidup dan berkembang biak yang akhirnya mengeluarkan toksin atau zat racun. Toksin inilah sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap timbulnya pseudomembran maupun terjadinya berbagai komplikasi (radang jantung/ myocarditis, gagal ginjal akut dan gangguan syaraf tepi)

Penatalaksanaan Difteri

Setiap penderita difteri memerlukan penatalaksanaan yang cepat, cermat dan holistik. Secara garis besar, penatalaksanaan difteri dibagi 2 yaitu: penatalaksanaan umum dan khusus
Penatalaksanaan umum meliputi perawatan di ruang isolasi selama kurang lebih 2 minggu dan tirah baring. Pemberian cairan serta nutrisi yang seimbang.
Penatalaksanaan khusus meliputi pemberian ADS (Anti Diphtheria Serum) untuk menetralkan toksin difteri, pemberian antibiotik untuk melelahkan dan membunuh kuman difteri, kortikosteroid untuk kasus difteri berat dimana didapatkan adanya sumbatan jalan napas atas dan pada kasus difteri yang disertai penyulit myokarditis.
Pada kasus difteri yang mengalami sumbatan jalan napas atas harus segera dilakukan tindakan trakeostomi
Penatalaksanaan Difteri tidak cukup hanya mengobati penderita, tapi juga mengobati para barrier. Mereka yang kontak erat dengan penderita difteri tanpa memandang status imunisasi sebelumnya, dilakukan: Uji usap tenggorokan
Jika hasil positip (karier) diberikan antibiotik Erythromycin selama 7 hari
Anak yang telah mendapat imunisasi dasar diberikan booster toksoid difteri, yang belum diimunisasi segera melengkapi imunisasi
Penatalaksanaan Difteri yang sangat rumit ini tidak selalu membuahkan hasil yang memuaskan. Walaupun dilakukan pengobatan, 1 dari 10 pasien difteri kemungkinan meninggal. Tanpa pengobatan 1 dari 2 pasien difteri meninggal
Pencegahan Difteri

Imunisasi adalah perlindungan terbaik terhadap kemungkinan tertular penyakit difteri, dan dapat diperoleh dengan mudah di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta.
Berikut adalah himbauan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) terkait pencegahan menularnya kasus difteri:
Lengkapi imunisasi DPT/DT/Td anak anda sesuai jadwal imunisasi anak Kementerian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi difteri lengkap adalah sebagai berikut:

  1. Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT).
  2. Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.
  3. Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.
  4. Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.

Begitulah penyakit Difteri, yang sepanjang sejarah menjadi penyakit yang menakutkan dan menjadi momok bagi tenaga kesehatan. Timbulnya penyakit difteri di wilayah tertentu, cepat sekali menjadi wabah yang membahayakan yang banyak menelan korban dan paling sering terjadi pada anak-anak.
Penggunaan masker bagi mereka yang sedang batuk, ataupun perubahan gaya hidup yang lebih baik, BELUM cukup berhasil mengerem laju penularan penyakit ini. IMUNISASI adalah jalan terbaik dan satu-satunya dalam mencegah penyakit difteri. Sudahkah anak Anda diimunisasi difteri, sebagaimana himbauan WHO (World Health Organization): “All children worldwide should be immunized against diphtheria”

 

Share