• Subcribe to Our RSS Feed

GADGET: KAWAN ATAU LAWAN?

Oct 3, 2016 by     No Comments    Posted under: Parenting, Tumbuh Kembang Anak

GADGET: KAWAN ATAU LAWAN?

IMG_0276(1)

Fenomena gadget (gawai, smartphone, pad, tablet, laptop!) tidak hanya melanda kaum dewasa, tapi juga mulai menindas anak-anak bahkan balita. Para orang tua dengan ikhlas memfasilitasi keberadaan gadget di tangan si kecil, dan dengan bangganya memamerkan kepiawaian mereka dalam memainkan gadget di depan umum.
Orang tua mungkin berpikir bahwa sudah selayaknya anak mereka berkenalan dengan kemajuan teknologi masa kini agar tidak ketinggalan jaman, tidak ketinggalan dengan teman-teman sebayanya. Alasan lain dari orang tua memperkenalkan gadget sejak dini adalah agar anak bisa duduk manis di rumah, sehingga sang mama-papa bisa bebas beraktifitas baik di dalam maupun di luar rumah.

Gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, TANPA interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motoric dan emosi

Tapi tahukah Anda, bahwa gadget berdampak negatip terhadap tumbuh kembang anak?
Menurut para ahli tumbuh kembang anak, gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, TANPA melibatkan beberapa eleman penting dalam proses STIMULASI, yaitu interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motoric dan emosi
Selain “mal-stimulasi” diatas, gadget bisa menyebabkan beberapa dampak negatif, antara lain:
OBESITAS
Berbagai aplikasi baik itu game, social media dll yang bisa bebas diunduh, hampir semuanya bisa dimainkan oleh anak-anak dengan hanya menggunakan gerakan jari tangan, tanpa membutuhkan banyak gerakan yang melibatkan otot-otot besar yang mendukung rangka tubuh. Ditambah lagi dengan aneka kudapan yang disediakan sebagai soulmate nya gadget. Ini akan meningkatkan resiko terjadinya obesitas pada anak dengan resikonya baik resiko jangka pendek maupun jangka panjang

GANGGUAN TIDUR
Seorang anak bisa berjam-jam memainkan gadget kesayangannya di kamar tanpa ada pengawasan dari orang tua. Karena terlalu asyik dengan dunia virtual nya, seorang gadget-holic bisa betah begadang dan lupa tidur atau bahkan mengalami kesulitan tidur dan berakibat pada kontra-produktif. Produktifitas anak akan menurun tajam ditandai dengan berkurangnya prestasi akademis, melemahnya semangat belajar

RADIASI
Setiap gadget memiliki paparan elektromagnetik yang dapat mempengaruhi tubuh. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja tidak disarankan untuk terpapar radiasi elektromagnetik dalam jangka waktu lama. Untuk anak 1-3 tahun yang saraf-sarafnya masih aktif berkembang, radiasi elektromagnetik dari lingkungan di sekitarnya dapat menghambat perkembangan tersebut. Akibatnya perkembangan kogintif anak berjalan lambat, anak susah berkonsentrasi dan akibat negatif lainnya. Selain itu radiasi yang dipancarkan oleh layar monitor gadget bisa menyebabkan keluhan seputar mata dan penglihatan yang disebut “Computer Vision Syndrome”

ADIKSI
Berbagai aplikasi dalam gadget selalu menyajikan sesuatu yang menarik, membuat penasaran dan merangsang anak untuk segera mencoba permainan baru yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Anak akan tertantang untuk menyelesaikan berbagai “tantangan baru” yang ditawarkan oleh permainan di dunia maya tersebut. Demikian juga dengan maraknya sosial media yang membuat anak selalu aktif update status, comment di grup ataupun sekedar chat dengan sahabatnya. Semua ini bisa menyebabkan anak mudah kecanduan gadget. Adapun ciri-ciri kecanduan gadget antara lain:
Total waktu yang digunakan untuk berkencan dengan gadget kesayangannya adalah 6 jam atau bahkan lebih
Terobsesi dengan gadget. Jika saat gadget disita oleh orang tua atau saat orang tua menolak meminjami gadget, terjadi reaksi “marah yang berlebihan” dari anak
Jika anak lebih cenderung tertarik dengan gadget dibandingkan bersosialisasi dengan teman-temannya
Jika kegiatan bermain gadget sudah mengganggu rutinitas Harian (mandi, makan, belajar dll)
Jika kegiatan bermain gadget menyebabkan anak lalai mengerjakan tugas sekolah
Jika kegiatan bermain gadget menyebabkan waktu tidur berkurang

AGRESIF
Konten kekerasan yang ditawarkan oleh beberapa aplikasi dapat memicu anak untuk bertindak agresif baik saat dirumah maupun di sekolah. Muatan yang bernuansa kekerasan seperti perkelahian, penganiayaan, bahkan pembunuhan, menjadi santapan bebas bagi anak, sehingga anak akan menganggap bahwa tindakan kekerasan (seperti yang dicontohkan oleh aplikasi gadget) merupakan hal biasa yang bisa dia temukan di lingkungan sekitarnya. Sehingga dalam kehidupan nyata, dengan dalih untuk membela diri atau bahkan untuk alasan eksistensi, mereka dengan mudahnya meniru adegan-adegan kekerasan yang sering mereka lihat melalui layar gadget.

KEMAMPUAN PSIKOMOTORIK BERKURANG
Menghabiskan waktu dengan gadget membuat kemampuan anak yang lain kurang berkembang, salah satunya adalah kemampuan psikomotorik anak. Padahal semestinya usia anak-anak adalah usia untuk mengeksplor seluruh bakat psikomotorik yang dimilikinya, seperti menggambar, bernyanyi, bermain bersama rekan sebaya dan kegiatan lainnya. Saat melakukan aktivitas fisik seperti ini, sejumlah kemampuan lain juga akan diasah sekaligus. Seperti saat menggambar, anak juga belajar mengembangkan otak kanannya. Saat bermain bersama rekan sebaya, anak akan belajar mengasah keterampilan sosialnya.

GANGGUAN BELAJAR
Aplikasi-aplikasi dan sistem operasi pada gadget menyajikan interaksi multimedia yang memikat. Permainan warna, animasi ditambah suara membuat anak betah berlama-lama di depan layar gadget. Pada saat masa sekolah tiba, anak yang terbiasa berinteraksi dengan gadget akan menemui kesulitan untuk menyerap materi pelajaran sekolah yang cenderung statis. Teks hitam putih, tanpa animasi, tanpa suara. Apalagi berhadapan dengan guru yang kurang lihai mengemas mata pelajaran menjadi menarik. Ini bisa menurunkan minat belajar anak.
Berikut beberapa tips untuk menjauhkan buah cinta Anda dengan gadget:

  1. Jangan kenalkan anak dengan gadget hingga anak dirasa SIAP menghadapi godaan dunia luar yang global dan terbuka. Kesiapan anak tergantung latar belakang pendidikan formal dan pergaulan lingkungan. Jika anak sudah balig, sudah bisa membedakan baik-buruk dan sudah punya senjata untuk menanggulangi godaan setan, barulah anak boleh berkenalan dengan gadget, itupun hanya untuk hal-hal yang positip, misalnya mengerjakan tugas sekolah, mencari informasi terkait pelajaran sekolah dll
  2. Jika orang tua merasa anak memerlukan alat komunikasi untuk berhubungan dengan teman, guru maupun keluarga, maka pilihan yang bijak adalah dengan memberikan “handphone” yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan sms (baca: handphone jadul)
  3. Jika anak sudah terlanjur berkawan akrab dengan gadget, batasi penggunaannya! Buat aturan khusus mengenai penggunaan gadget yang disusun dengan melibatkan anak. Utamakan proses diskusi dan negoisasi dengan anak, misalkan hanya hari sabtu (sepulang sekolah) hingga minggu sore.
  4. Berilah reward jika anak menaati aturan diatas. Sebaliknya, jika melanggar juga akan menerima sangsi misalnya yang jajan dikurangi. Reward dan punishment ini pun sebaiknya dibuat atas kesepakatan kedua belah pihak (orang tua dan anak) sebelum aturan diterapkan
  5. Hindari menggunakan gadget di depan anak kecuali hanya untuk menerima panggilan darurat. Ingatlah bahwa orang tua adalah panutan terbaik bagi anak-anak, sedangkan ANAK adalah peniru ulung
  6. Alihkan waktu luang anak dengan aktivitas yang melibatkan fungsi motorik dan menyertakan peran serta orang tua, semisal bersepeda bersama, berkebun, memasak, mencuci mobil dll. Kegiatan ini bisa sekaligus menggali potensi dan minat anak.
  7. Sediakan mainan edukatif sebagai alternatif pengganti pemainan game. Sebaiknya pilih mainan yang memerlukan interaksi, komunikasi, aktivitas fisik, strategi dan kerjasama tim, misalnya congklak, monopoli, scrable, uno dll
  8. Pada saat acara istemewa (makan bersama di restauran, ke kondangan dll) buatlah perjanjian dengan anak bahwa selama acara berlangsung dilarang menyentuh gadget, sehingga quality time benar-benar berkualitas.
  9. Ajaklah anak untuk mengikuti kegiatan sosialisasi baik dengan sanak saudara maupun dengan teman sebaya. Undang teman-teman sekolah atau teman-teman mengaji nya datang ke rumah atau sebaiknya. Dorong anak untuk bermain aktif seperti lompat tali, petak umpet, main bola dll
  10. Perbanyak komunikasi dan interaksi dengan anak baik dari segi kuantitas maupun kualitas, misalnya dengan mengantar-jemput anak ke sekolah, mendongeng sebelum tidur, sholat berjamaah ke masjid bersama anak, belajar mengaji bersama, menanyakan kegiatan di sekolah saat makan malam dll
  11. Setidaknya sebulan sekali ajak anak ke toko buku untuk memilih dan membeli buku kesukaannya. Diskusikan isi buku setibanya di rumah. Selain memupuk anak agar gemar membaca, kegiatan ini mampu mengalihkan anak dari gadget
  12. Dorong anak agar aktif mengikuti kegiatan ekstra kurikuler ataupun kegiatan tambahan lain misalnya kursus bahasa inggeris, les renang, les piano, latihan futsal, badminton dll yang tentu saja disesuaikan dengan minat serta bakat anak

Lalu, apa yang sebaiknya yang dilakukan orang tua jika anaknya sudah kecanduan gadget?
Selain beberapa tips diatas, untuk kasus kecanduan, perhatikan prinsip-prinsip berikut ini:

  1. Lakukan Bertahap: Kecanduan sesuatu tidak bisa kita hentikan begitu saja dengan tiba-tba. Demikian juga dengan kecanduan gadget. Kurangi perlahan durasi bergadget
  2. Teknik substitusi: cari permainan alternatif sebagai pengganti, misalnya menonton DVD edukatif dengan didampingi orang tua, bermain scrable/ monopoli/ uno bersama orang tua dll. Teknik substitusi ini sebaiknya dilakukan bersamaan dengan tips nomer 1
  3. Tetapkan aturan “hari bebas gadget” dan “moment bebas gadget” lengkap dengan metode reward and punishment yang sudah disepakati oleh anak dan aturan ini harus ditaati pula oleh orang tua
  4. Berusaha Keras, konsisten dan kontinyu. Sebelumnya orang tua harus menyadari dan menetapkan status “kecanduan gadget” pada anak dan persepsi ini harus sama antara ayah, ibu maupun kakek/nenek yang serumah agar tercipta konsistensi yang dilakukan secara kontinyu. Orang tua harus selalu memantau, membimbing dan mengarahkan secara terus menerus. Jangan sampai ayah ibunya sudah konsisten, tapi kakek/neneknya tidak tega dan memberikan peluang terciptanya kondisi kambuhnya kecanduan.

 

 

Share