• Subcribe to Our RSS Feed

KebesaranMu

Kulangkahkan kedua kakiku menyusuri jalan menuju pertigaan depan pondokan. Sore ini, tidak seperti biasanya, sendiri berangkat ke masjidil haram. Teman teman sekamar sudah berangkat 5 menit yang lalu.
Kutumpangi bus Saptco yang telah disediakan pemerintah Indonesia. Sudah hampir sebulan di kota suci ini, tapi baru sekali ini aku coba menumpang bus gratis ini. Hmmm… Lumayan bagus! Dengan kondisi interior bus yang masih baru, AC yang cukup dingin, dan sopir yang ramah.

Tapi, alamak… Penumpang Indonesia, nggak di tanah air, nggak di negeri orang, sama saja…!! Berebutan masuk bus, tanpa peduli mana wanita, mana pria, mana muda, mana tua…

Aku nikmati saja suasana seperti ini. Untung masih kebagian tempat duduk di deret paling belakang.

Tak lama, bus pun sampai di terminal bawah tanah di halaman masjidil haram. Kamipun langsung menuju ecsalator. Dan yup! Tampak sudah kemegahan masjidil haram. Megah bak istana raja. Serba putih abu-abu laksana mutiara raksasa yang berkilau tertimpa sinar matahari senja…

Sungguh, tak pernah aku lihat masjid seindah masjidil haram. Subhanallah…

Menyusuri pelataran masjidil haram setapak demi setapak, hingga tibalah didepan salah satu pintu masjid. Seorang askar (sebutan untuk polisi penjaga masjidil haram) menggeledah sebentar tas pinggangku. “Syukron…” Ucapku seraya menundukkan kepala. Sang askar pun menyilahkan masuk.
Sambil menebarkan pandangan ke kanan dan kekiri, aku langkahkan kaki menuju bagian tengah dari masjidil haram, ya… Menuju bagian inti dari masjidil haram, yaitu baitullah, ka’bah…

Langkahku semakin dekat, makin dekat… Hingga berjarak kurang lebih 50 meter dari ka’bah. Tampak lautan manusia berjalan memutari ka’bah sambil khusu’ berdoa. Sebagian lagi berdesak-desakan menuju suatu titik di suatu sudut ka’bah. Ya, mereka sedang berdesakan untuk bisa mencium hajar aswad, sang batu hitam dari surga itu.

Sementara itu, sang ka’bah di senja hari tampak begitu indah, sangat gagah… Rangkaian bordir emas di sepertiga bagian atas kiswah (kain hitam penutup ka’bah) terlihat berkilau oleh sorotan lampu-lampu disekitar nya dan sorotan lampu dari menara masjidil haram menambah eksotisme dari rumah Allah yang pertama kali dibangun dimuka bumi ini.

Hampir setiap hari selama hampir sebulan ini, kami selalu memandangmu, wahai baitullah… Tapi mengapa kekaguman ini seakan tak pernah pupus? Mengapa keindahanmu, kesederhanaanmu, eksotisme mu, selalu membuat kami berdecak takjub seraya berucap “Subhanallah”?

Mengapa selalu saja, tiap kami menatapmu, seolah bukan hanya kedua mata ini yang memandangmu, tapi juga mata hati kami?

Mengapa setiap kami menyaksikan bagaimana umat manusia mengitarimu sebanyak 7 kali, kami merasa kecil, keciiiiilll sekali. Bahkan lebih kecil dari sebiji atom?

Mengapa setiap kali memandangmu, hati ini selalu bergetar, seolah ikut bertasbih memuliakan namamu?

Terbayang olehku berjuta-juta umat muslim di seluruh dunia bersujud menghadapmu, berucap takbir seraya mengangkat kedua tangan menghadap ke arahmu. Dan… Adzan maghrib pun berkumandang merdu…

Gelegar takbir berbondong2 menuju kedua gendang telingaku… Memecahkan kebekuan disekitarnya… Teruuuuss merasuk, merembes diantara tulang belulang, merasuk hingga sendi… mengalir terus hingga ujung jari… Hingga membuatkku lunglai tak berdaya. Allahu Akbar, bisikku lirih

Gema takbir kembali mengalun syahdu… Menusuk langsung ke jantungku, mengisi relung-relung ruang jantung kiriku… Beradu dengan sel-sel darah merah yang penuh oksigen. Terpompa menuju aorta, ke paru-paru, hingga pembuluh kapiler diseluruh tubuh…  kalimah takbir pun terasa mengalir ke seluruh raga, merasuk dalam sukma…

Allahu Akbar, sahutku lirih…
Sekujur tubuhku pun seolah bergetar… Mengikuti semesta berseru “Allah Maha Besar”

Subhanallah…
Tak terasa, tinggal sehari lagi, jatah kami menikmati kebesaran dan keindahan ka’bah ini habis… Karena kami akan menuju Madinah.

Subhanallah… Allahuakbar…
Tak terasa airmatapun menggenang diantara kedua kelopak… Aku tahan untuk tidak menetes jatuh… Tapi sia-sia… Tik! Tik! Lantai masjidil haram pun basah oleh airmata kami. Airmata penuh ketakjuban akan kebesaranmu, ya Allah…

Assyhadualla ilaa ha illallah…
Gema adzan maghrib masih mengalun merdu… Seluruh tubuh ku pun seakan bersatu dengan semesta. Bertasbih… Memuji kebesaranMu… Bersyukur atas segala karuniaMu…

Ya Allah… Jangan jadikan kesempatan mengunjungi rumahMu kali ini, menjadi kesempatan terakhir bagiku. Berilah kami umur panjang dan kesehatan serta kesempatan memandang kota suci ini, menatap masjid indah ini dan bersujud dihadapan baitullahMu, bersama anak cucu kami….
Amien….

Share