• Subcribe to Our RSS Feed

KEJANG DEMAM VS EPILEPSI

Mar 28, 2016 by     No Comments    Posted under: Child Health

KEJANG DEMAM VS EPILEPSI

kejang vs epilepsi
KEJANG DEMAM adalah bangkitam kejang yang terjadi saat suhu tubuh mencapai 38°C atau lebih, yang disebabkan oleh proses “diluar otak” (extra-cranial). Sebagian besar kejang demam terjadi pada usia diatas 6 bulan, dibawah 5 tahun.
Ciri khas Kejang Demam adalah

  • Demamnya mendahului kejang
  • Saat kejang, anak masih demam
  • Setelah kejang, anak langsung sadar kembali

Kejang Demam terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, sedangkan epilepsi bisa terjadi pada semua usia

Antara Kejang Demam dan Epilepsi sebenarnya 2 penyakit yang berbeda dan tidak mempunyai hubungan sebab-akibat secara langsung. Kejang Demam terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, sedangkan epilepsi bisa terjadi pada semua usia. Setelah usia 5 tahun, KD biasanya akan “sembuh” sendiri. Sedangkan epilepsi bisa berlanjut hingga dewasa. KD selalu didahului demam, sedangkan epilepsi bisa terjadi tanpa pemicu apapun.
Dari beberapa penelitian didapatkan hasil bahwa Epilepsi terjadi pada kurang dari 5 persen anak kejang demam, dan biasanya pada anak-anak ini terdapat faktor risiko lain.
Kata “Epilepsi” berasal dari bahasa Yunani: epilambanmein yang berarti serangan.
Epilepsi didefinisikan sebagai gangguan kronis (berlangsung lama) yang ditandai adanya “serangan” berulang akibat lepas muatan listrik abnormal dari sel-sel otak (neuron). “Serangan” yang dimaksud tidak melulu KEJANG tapi bisa dalam bentuk lain seperti tiba-tiba melamun atau bengong dll.
Jadi KEJANG karena epilepsi bersifat:

  • Spontan, bisa tanpa pemicu (unprovoked)
  • Berulang
  • Dengan atau tanpa disertai penurunan kesadaran

Penderita epilepsi sering kali juga berhadapan dengan berbagai masalah antara lain: kesulitan belajar, gangguan perilaku, gangguan tumbuh kembang yang menentukan kualitas hidup anak

Epilepsi sebenarnya merupakan “diagnosis klinis”, artinya: seorang dokter bisa mendiagnosis epilepsi hanya dari gejala, tanda klinis dan pemeriksaan fisik. Beberapa pemeriksaan penunjang seperti EEG (Electro Encephalography, rekam otak), atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) mungkin dibutuhkan untuk menentukan fokus epilepsi nya, evaluasi pengobatan ataupun untuk menentukan prognosis.
Ketika seseorang di diagnosis Epilepsi, maka harus menjalani pengobatan jangka panjang. Penderita epilepsi sering kali juga berhadapan dengan berbagai masalah antara lain: kesulitan belajar, gangguan perilaku, gangguan tumbuh kembang yang menentukan kualitas hidup anak. Disinilah pentingnya diagnosis dini, kepatuhan minum obat serta kewaspadaan orang tua dalam mengamati status tumbuh kembang anak. Jika epilepsi ditemukan pada saat bayi, maka stimulasi merupakan hal penting untuk mengoptimalkan perkembangan anak.
Sebenarnya apa saja yang menyebabkan epilepsi?
Penyebab pasti dari epilepsi hingga saat ini masih belum diketahui (belum terbukti secara ilmiah). Yang jelas epilepsi bukan penyakit kutukan, bukan penyakit keturunan.
Faktor “keturunan” ini hanyalah satu dari sekian faktor resiko.
Beberapa faktor resiko epilepsi adalah: riwayat kehamilan dan persalinan (asfiksia, prematuritas, bayi kuning dll). Kejadian kejang demam yang berulang, trauma kepala, perdarahan otak, infeksi selaput otak, infeksi otak dll

Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut saat anak Anda mengalami kejang!

 

Tindakan yang dilakukan pertama jika anak mengalami epilepsi?
Bila melihat anak kejang, usahakan untuk tetap tenang dan lakukan hal-hal berikut: (sumber: www.idai.or.id)

  1. Letakkan anak di tempat yang aman, jauhkan dari benda-benda berbahaya seperti listrik dan pecah-belah.
  2. Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, atau benda lain yang ada dalam mulut akan keluar sehingga anak terhindar dari bahaya tersedak.
  3. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut. Memasukkan sendok, kayu, jari orangtua, atau benda lainnya ke dalam mulut, atau memberi minum anak yang sedang kejang, berisiko menyebabkan sumbatan jalan napas apabila luka
  4. Jangan berusaha menahan gerakan anak atau menghentikan kejang dengan paksa, karena dapat menyebabkan patah tulang.
  5. Amati apa yang terjadi saat anak kejang, karena ini dapat menjadi informasi berharga bagi dokter. Tunggu sampai kejang berhenti, kemudian bawa anak ke unit gawat darurat terdekat.
  6. Apabila anak sudah pernah kejang demam sebelumnya, dokter mungkin akan membekali orangtua dengan obat kejang yang dapat diberikan melalui dubur. Setelah melakukan langkah-langkah pertolongan pertama di atas, obat tersebut dapat diberikan sesuai instruksi dokter.
  7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih
Share