• Subcribe to Our RSS Feed

Mekkah: Antara Harapan dan Kenangan

Mekkah, 20 Nopember 2011

Hari ini adalah hari terakhir kami, jamaah haji KBIH Labbaik tinggal di kota suci Mekkah Al Mukarromah, karena siang ini ba’da dhuhur, kami akan diberangkatkan menuju Madinah Al Munawaroh.

Entahlah… Kami harus sedih atau bahagia.

Bahagia, karena tinggal 9 hari lagi kami akan berkumpul lagi bersama keluarga tercinta. Senang, karena beberapa hari lagi kami akan kembali beraktivitas seperti sedia kala. Pergi ke sawah untuk bertani, ke pasar untuk berjualan lagi, atau ke kantor untuk berkencan dengan komputer kesayangan…

Sedih? Tentu saja… Karena selama 30 hari kami tinggal di kota suci ini, tentu banyak kejadian yang menyenangkan atau yang menyedihkan terjadi… Mengisi memory kita!

Sedih, karena dalam hitungan jam ke depan, kami harus berpisah dengan masjidil haram, the most beautiful mosque in the world, harus berpisah dengan baitullah, ka’bah yang agung, harus berpisah dengan bakhutmah yang unik, harus berpisah dengan jamaah lain dari seluruh penjuru dunia…

Ah, sebentar lagi semuanya akan menjadi kenangan…

Masih segar dalam ingatan kami, bagaimana hebohnya kami berebutan naik bus Saptco, atau naik mobil bak terbuka dan harus berdiri sambil tertiup angin kencang, atau berdesakan berjalan kaki sejauh 3 km sambil batuk-batuk saking banyaknya debu beterbangan.

Masih terbayang jelas, bagaimana kami mampir di kedai donat untuk mengisi perut yang lapar, bagaimana kami menawar sajadah dengan bahasa isyarat dan kalkulator, atau bagaimana kami berebutan jalan dengan jamaah dari nigeria yang berkulit legam, tinggi besar dan tenaganya sama dengan 10 tenaga orang Indonesia!

Masih teringat bagaimana kami harus bersusah payah berjalan menuju pintu masjidil haram, bagaimana sulitnya kami mendapatkan tempat untuk membentangkan sajadah saking penuhnya jamaah, bagaimana secara mengagetkan kami di “obrak” oleh para askar karena salah tempat dan kami (suami-isteri) harus berpisah…

Oh, cintaku dipisahkan oleh para askar nan kekar itu! ‎​Ingatan pada saat pertama kali kami datang di masjidil haram tergambar jelas… Bagaimana kami takjub melihat megahnya masjidil haram, bagaimana kami terpukau memandang gagah perkasanya ka’bah, bagaimana kami terengah-engah saat thawaf, bagaimana kami tertatih saat sa’i, bagaimana segarnya saat kami meneguk segelas air zam-zam untuk pertama kalinya, bagaimana kami harus mencari jalan keluar saat tersesat di masjidil haram…

Sekelebat, bayangan pondokan bakhutmah singgah dalam ingatanku. Ahaii… Bakhutmah yang unik, tempat kami melepas lelah, tempat kami saling cerita pengalaman seru ataupun lucu, tempat kami bersenda gurau, tempat kami curhat bagaimana kami sampai bisa naik haji, tempat kami saling berbagi makanan, tempat kami harus antri untuk mandi, tempat kami kepanasan saat menjemur pakaian di lantai 6 dan, tempat kami terjebak di lift!

Kulirik jarum jam di pergelangan tangan kiriku… Eits! Sudah pukul 20.00 WAS, berarti 30 menit waktu deadline kami untuk mengumpulkan koper ke maktab. Kurapikan lagi baju yang akan aku kemas di tas tenteng. Aku rapikan kancing-kancing baju taqwa ku. Satu, dua, tiga… Aku hitung satu persatu kancing itu… Secara tiba2 diatas kancing baju itu tergambar jelas 3 wajah sang buah hati tersayang.

Senyum lucunya, sorot matanya yang jernih, rambutnya yang acak-acakan, semua tergambar jelas… Oh, buah hatiku, sedang apa kalian disana? Kami sangat merindukanmu nak… Kubaca lagi pesan singkat yang dikirimkan si sulung lewat handphone tadi pagi: “Abah aku kangen sama abah… Aku hanya bisa memandang fotonya abah”

Ah, andai kau tahu nak, betapa rindu kami semua… Bukan hanya pada sang buah hati, tapi juga pada bau tanah di Indonesia, keramahan orang2 Indonesia, senyum tulus para handai taulan…

Sreeeet… Usailah acara kemas mengemas koper dan tas tenteng. Kubuka jendela pondokan… Kupandangi kota Mekkah tercinta. Tampak jam raksasa memamerkan kemegahannya, dengan lampu sorotnya yang gemerlap. Dikelilingi ratusan gedung bertingkat ‎​yang seolah berlomba menggapai bintang di langit…

Ya Allah… Jangan jadikan kedatangan kami di kota suci Mu ini menjadi yang terakhir kalinya. Beri kami semua kesempatan untuk datang ke kota penuh fadhilah ini lagi, suatu saat… Bersama sang buah hati tercinta…
Ah, inilah ‘jahatnya’ kota Mekkah! Selalu membuat tamunya ingin bekunjung kesini lagi…

Sayonara Mekkah… InsyaAllah kami akan datang lagi, entah kapan…

 

Share