• Subcribe to Our RSS Feed

Lactogenesis: Mekanisme terbentuknya ASI

Lactogenesis

Kurangnya pengetahuan ibu tentang “proses menyusui dan mekanisme terbentuknya ASI” merupakan salah satu penyebab kegagalan program pemberian ASI eksklusif pada bayi baru lahir.

Kerap kali pada hari 1-2 pasca persalinan si bayi menyusu tapi ASI tak kunjung keluar. Hal ini akan membuat panik busui. Ditambah lagi adanya wrong suggestion dari orang orang di sekitarnya, maka genap sudah tekat si ibu untuk memberikan sufor pada bayinya… Inilah awal petaka itu…

Ada baiknya Dad & Mom paham bagaimana ASI diproduksi.

Ketika bayi menyusu, ketika mulut bayi menghisap puting susu,  payudara mengirimkan rangsangan ke otak. Selanjutnya otak akan  mengeluarkan hormon Prolaktin yang masuk ke dalam aliran darah menuju kembali ke payudara.

Sel-sel pembuat susu sesungguhnya tidak langsung bekerja ketika bayi menyusu.

Sebagian besar hormon Prolaktin berada dalam darah selama kurang lebih 30 menit, setelah proses menyusui. Setelah proses menyusu selesai, barulah sebagian besar hormon Prolaktin sampai di payudara dan merangsang sel-sel pembuat susu untuk bekerja.

Jadi, hormon Prolaktin bekerja untuk produksi susu BERIKUTNYA.Susu yang disedot/dihisap bayi saat ini, sudah tersedia dalam payudara, di sepanjang saluran ASI.”

”Produksi susu dalam payudara prinsipnya mirip dengan tanaman teh atau tanaman kembang kertas. Jika kita memetik pucuk teh atau kembang kertas, maka akan tumbuh dari bawah ketiak daun, dua buah cabang baru. Jadi semakin sering dipetik, semakin banyak pucuk mudanya. Jika tidak dipetik, tidak akan ada cabang baru.”

”Begitu pula dengan ASI, semakin sering disedot bayi semakin banyak ASI yang diproduksi. Semakin jarang bayi menyusu, semakin sedikit ASI yang diproduksi. Jika bayi berhenti menyusu, maka payudara juga akan berhenti memproduksi ASI”

”Setelah menerima rangsangan dari payudara, otak juga mengeluarkan hormon Oksitosin selain hormon Prolaktin”

”Hormon Oksitosin diproduksi lebih cepat daripada Prolaktin. Hormon ini juga masuk ke dalam aliran darah menuju payudara. Di payudara, hormon Oksitosin ini merangsang sel-sel otot untuk berkontraksi. Kontraksi ini menyebabkan ASI hasil produksi sel-sel pembuat susu terdorong mengalir melalui pembuluh/saluran ASI, menuju muara saluran ASI. Kadang-kadang, bahkan ASI mengalir hingga keluar payudara ketika bayi sedang tidak menyusu. Mengalirnya ASI ini disebut refleks pelepasan ASI.”

”Produksi Hormon Oksitosin bukan hanya dipengaruhi oleh rangsangan dari payudara. Hormon oksitosin juga dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan ibu. Jadi ketika ibu mendengar suara bayi, meskipun mungkin bukan bayinya, ASI dapat menetes keluar. Suara tangis bayi, sentuhan bayi, atau ketika ibu berpikir akan menyusui bayinya, atau bahkan ketika ibu memikirkan betapa sayangnya kepada sang bayi, ASI dapat menetes keluar.”

”Jika refleks pelepasan ASI ibu tidak bekerja dengan baik, maka bayi akan mengalami kesulitan memperoleh ASI karena harus mengandalkan hanya pada kekuatan sedotan menyusunya. Akibatnya, bayi akan kelelahan dan memperoleh sedikit ASI. Kadang-kadang hal ini membuatnya frustasi, dan kemudian menangis. Peristiwa ini kelihatannya seperti seolah-olah payudara berhenti memproduksi ASI, padahal tidak. Payudara tetap memproduksi ASI, tetapi ASI tidak mengalir keluar.”

”Jadi perkara refleks pelepasan ASI ini sangat penting bagi bayi”

”Refleks pelepasan ASI ini menjelaskan kepada kita bahwa ibu dan bayi haruslah selalu berdekatan sepanjang waktu, sehingga ibu dapat melihat, menyentuh, mendengar dan menanggapi sang bayi. Hal ini akan membantu tubuh ibu menyiapkan diri untuk menyusui”

”Produksi ASI juga dikendalikan di dalam payudara itu sendiri.Bila dalam satu payudara ada banyak ASI yang tertinggal, maka zat penghambat akan memerintahkan sel-sel pembuat susu untuk berhenti bekerja. Penghentian ini diperlukan untuk mencegah payudara yang bersangkutan mengalami efek kepenuhan.”

”Hal ini menjelaskan kepada kita mengapa jika bayi lebih banyak menyusu pada satu payudara, maka payudara tersebut menghasilkan lebih banyak ASI dan ukurannya menjadi tampak lebih besar dari payudara lainnya.”

”Agar satu payudara tetap menghasilkan ASI, maka ASI yang ada di dalamnya harus dikeluarkan. Jadi, jika bayi tidak menyusu pada salah satu atau kedua payudara, ASI HARUS DIKELUARKAN DENGAN CARA DIPERAH.”

 

Share