• Subcribe to Our RSS Feed

LAST DAY IN MADINAH

Sepagi ini duduk di depan jendela sambil menyeruput kopi panas, mungkin merupakan sesuatu yang wajar. Selain untuk menghangatkan badan sembari menikmati pemandangan kota madinah yang penuh cahaya, juga untuk melamun…

Dari balik jendela, tampak ratusan hotel berjajar rapi mengelilingi Masjid Nabawi seolah ikut berlomba melasanakan ibadah sholat arbain. Di lantai bawah tiap hotel tampak ramai dikerubuti manusia dari berbagai belahan dunia, karena di tiap lantai dasar selalu dilengkapi dengan toko, kedai ataupun kios kaki lima yang menyediakan berbagai jenis cindera mata khas Arab Saudi.

Tapi pagi ini, terasa ada yang aneh. Ada perasaan senang luar biasa, juga rasa sedih yang mendalam. Entahlah… Yang jelas pagi ini adalah pagi terakhir para jamaah menikmati hawa dingin di kota Madinah, kotanya Rasulullah SAW. Pagi ini, kesempatan terakhir kami bergaul dengan manusia dengan berbagai bentuk rupa, beragam bahasa, beraneka budaya dari seluruh penjuru dunia.

Pagi ini adalah hari terakhir kami menjalankan ibadah di masjid penuh berkah, Masjid Nabawi.

Terbayang beberapa tempat bersejarah yang sempat kami ziarahi: bukit uhud yang heroik, masjid Qubah yang sarat sejarah, masjid Qiblatain dengan 2 mihrab, kebun kurma dengan berjuta buah, jabbal magnet yang menyimpan misteri, peternakan onta lengkap dengan susu murninya, percetakan Alquran yang membanggakan dll.

Terbayang pula bagaimana kami bertahan melawan cuaca yang sangat dingin, bagaimana kami berusaha menikmati jatah makan siang dan malam dengan berbagai cara, bagaimana perjuangan kami berdesakan untuk bisa berdoa di Roudhotul jannah, pun bagaimana sulitnya mencari tempat sekedar untuk membeber sajadah di dalam Masjid Nabawi, juga bagaimana serunya kami berbelanja, menawar barang incaran, hingga mendapat panggilan “Indonesia Bachil…”

Ah, yang namanya perpisahan memang selalu menimbulkan kesedihan, sekaligus kesan yang mendalam. Tapi tidak ada pilihan lain bagi kami semua… Biarlah ‎​beberapa saat lagi, kota yang sangat indah ini tinggal menjadi kenangan yang tidak hanya untuk dikenang, namun berlumur harapan agar suatu saat nanti, kami bisa berjumpa lagi dengan Masjid Nabawi, dengan kota cahaya nan penuh hikmah…

Ah… Andai hati dan jiwa kami ini adalah sebuah puzzle… Akan kami tinggal beberapa keping anak puzzle ini di Masjid Nabawi, di roudhotul jannah, di bukit uhud, di masjid kubah, dan dimanapun di kota Madinah… Dan kelak, kepingan anak puzzle itu akan kami susun kembali hingga hati dan jiwa kami kembali utuh…

Selamat tinggal Madinah tercinta…

Share