• Subcribe to Our RSS Feed

LEBAM

kematian

LEBAM

Ketika Jiwa yang bernyawa, tak berdaya

Kala ikhtiar berujung pada kegagalan

Manakala harapan tak bersekutu dengan kenyataan

Saat asa tak berkompromi dengan fakta

Dan doa tak bisa menghalangi takdirNya

 

Histeria tak lagi tertahankan

Sesal hanya berbuah tangis

Sementara, airmata tak bisa lagi menetes

 

Ruh pun akhirnya terpisah dari raga

Kini,

Jasad kaku membiru jadi beku

Melebam…

Seolah bersabda,

“raga tak bernyawa adalah sebuah masa depan yang pasti terjadi”

Biru menandakan kedamaian

Beku berarti tak ada lagi yg bisa melawannya

Melebam itu meninggalkan kesedihan

 

Ruh pun melayang

Terbang bersama sang malaikat

Untuk berhisab…

Seberapa besar amalmu?

Seberapa tinggi imanmu?

Seberapa dalam taqwamu?

Seberapa khusu’ ibadahmu?

Tercenung…

 

Seberapa besar dosamu?

Seberapa tinggi sombongmu?

Seberapa dalam khilafmu?

 Seberapa banyak syirikmu?

Tercekat…

 

Lalu… Apa yang membuatmu tercenung?

Kau pikir, amalmu bisa bertambah?

Kau kira, Dosamu bisa surut?

Amalmu, ibadahmu… Adalah penerangmu

Dosamu, sombongmu… Adalah siksamu

Ilmumu, fadilahmu… Adalah pelapangmu

 

”Jika anak Adam mati, maka terputuslah semua amalannya melainkan tiga hal; shadaqah jariyyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya. ”(H. R Muslim).       

Share