• Subcribe to Our RSS Feed

Menghitung Hari di Mina

Hanya 4 hari di Mina, tapi rasanya sudah berminggu-minggu. Bukan berarti tidak krasan, tapi cuaca di Mina benar-benar tidak bersahabat. Suhu di malam hari hingga terbit matahari, terasa dingin luar biasa, dinginnya hingga merasuk ke sum sum tulang.

Ditambah lagi terpaan angin dari mesin pendingin ruangan yang entah berapa PK kekuatannya. Dinginnya terasa membekukan seluruh aliran darah…

Pada siang hari, disaat matahari mulai menampakkan muka tegarnya, rasa panasnya hingga membuat kulit mengering, bibir pecah pecah dan kepala terasa berkunang kunang.
Ditambah lagi dengan kelembaban udara yang dibawah rata-rata kelembaban di Lamongan. Sesaat saja kami lupa untuk minum air putih, bahaya dehidrasi dan heat stroke pun menjadi ancaman utama.

Kondisi perkemahan di Mina sebenarnya tidak bisa dibilang kurang. Dengan ukuran 4 x 25 meter, dan harus ditempati untuk kurang lebih 90 orang, membuat suasana tenda menjadi semarak, penuh canda tawa.
Tenda di Mina sendiri, walaupun semi permanen, terlihat sangat kokoh dengan pilar-pilar yang terbuat dari besi-alumunium dan dirancang penuh perhitungan. Sementara itu, dalam tiap tenda terdapat 6 sentra pendingin udara.

Urusan makanpun sudah ditangani oleh pihak maktab dengan cukup baik, terlepas ada beberapa kekurangan disana sini.

Sarapan pagi sudah tersaji sejak pk. 05.30 WAS dengan menu nasi putih, lauk (ayam, telur, daging, kakap dll), sayur (tanpa kuah), buah (apel, pisang atau jeruk), ditambah jus kotak rasa jeruk. Untuk mendistribusikan ke seluruh jamaah (1 maktab terdiri dari 10 kloter, jadi total ada 4500 jamaah) disediakan tak kurang dari 10 meja penyajian, dan para jamaahpun harus rela antri untuk mendapatkan seporsi sarapan pagi. Modal sabarpun tidak boleh pas-pasan!

Tidak jauh dari makan pagi, makan siang dan malam pun cukup variatif. Hanya saja potongan daging dan ayam terasa jauh lebih besar dari di Indonesia, sehingga banyak ibu-ibu yang merasa eneg dan akhirnya memilih alternatif lain, yaitu makan mie instan ‎gelas, yang sudah disiapkan oleh maktab.

Makan siang siap disajikan sejak pukul 11 WAS, dimana terik mentari mencapai puncaknya. Jadilah antri yang hanya 20 menit, berasa menjadi 2 jam!

Dapur yang ada di bagian depan maktab, tampak tidak pernah istirahat, 24 jam non stop. Demikian juga persediaan air mineral botolan yang persediaannya berlimpah. Tampak sekali, bahwa pemerintah Arab Saudi sudah total dalam membantu kelancaran ibadah haji. Kekurangan disana sini hanyalah sebagian dari retaknya si gading gajah.

Dalam tiap blok di perkemahan disediakan 20 toilet pria, 20 toilet wanita dan 12 titik kran wudlu.
Hanya saja, karena terlalu banyak jamaahnya, setiap mau wudlu, mandi, buang air, pada jam-jam tertentu, kami dituntut untuk (lagi-lagi) antri. Di kalangan jamaah sendiri, sampai ada istilah: Tiada hari tanpa antri…

Seandainya setiap kali wudlu kami harus antri (=5 kali), ditambah 2 kali antri untuk mandi (kebanyakan kami hanya mandi 1 kali sehari), 3 kali antri untuk buang air, dan 3 kali antri makan. Jadi, total kami harus antri 13 kali sehari. Jika sekali antri butuh waktu 15 hingga 20 menit, coba hitung sendiri ya…

Alhamdulillah… Bagi kami, jamaah KBIH Labaik, bagaimanapun kondisi Mina, terasa begitu nikmat, karena memang hanya sisi positip yang kami nikmati. Hanya satu tujuan kami: menunaikan rangkaian manasik haji sesuai tuntunan Rasulullah SAW dengan ikhlas dan mengharap ridho Illahi.

Antri sesering dan selama apapun, tidak menjadi masalah bagi kami. Bukankah kami sudah terbiasa antri di tanah air? Di tempat praktek dokter, di kamar obat, di kasir, bahkan kami harus antri 3 tahun untuk bisa berangkat haji tahun ini. Adakah antrian yang lebih lama dari itu?

Share