• Subcribe to Our RSS Feed

Rekomendasi IDAI tentang Suplementasi Zat Besi pada Bayi/Anak

Aug 19, 2013 by     No Comments    Posted under: Baby Care, Child Health

Bab I. Latar belakang

Setiap kelompok usia anak rentan terhadap defisiensi besi (DB).  Kelompok usia yang paling tinggi mengalami DB adalah usia balita (0-5 tahun) sehingga kelompok usia ini menjadi prioritas pencegahan DB. Kekurangan besi dengan atau tanpa anemia, terutama yang berlangsung lama dan terjadi pada usia 0-2 tahun dapat mengganggu tumbuh kembang anak, antara lain menimbulkan defek pada mekanisme pertahanan tubuh dan gangguan pada perkembangan otak yang berdampak negatif terhadap kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

Rekomendasi I

Suplementasi besi diberikan kepada semua anak, dengan prioritas usia balita terutama usia 0-2 tahun

 

Bab II. Pentingnya suplementasi besi untuk anak

Prevalens anemia defisiensi besi (ADB) pada anakbalita di Indonesia sekitar 40-45 %. Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalens ADB pada bayi 0-6 bulan, bayi 6-12 bulan, dan anak balita berturut-turut sebesar 61,3%, 64,8% dan 48,1%,Penelitian kohort terhadap 211 bayi berusia 0 bulan selama 6 bulan dan 12 bulan didapatkan insidens ADB sebesar 40,8% dan 47,4%. Pada usia balita, prevalens tertinggi DB umumnya terjadi pada tahun kedua kehidupan akibat rendahnya asupan besi melalui diet dan pertumbuhan yang cepat pada tahun pertama. Angka kejadian DB lebih tinggi pada usia bayi, terutama pada bayi prematur (sekitar 25-85%) dan bayi yang mengonsumsi ASI secara eksklusif tanpa suplementasi. Rekomendasi terbaru menyatakan suplementasi besi sebaiknya diberikan mulai usia 4-8 minggu dan dilanjutkan sampai usia 12-15 bulan, dengan dosis tunggal 2-4 mg/kg/hari tanpa melihat usia gestasi dan berat lahir. Remaja perempuan perlu mendapat perhatian khusus karena mengalami menstruasi dan merupakan calon ibu. Ibu hamil dengan anemia mempunyai risiko 3 kali lipat melahirkan bayi anemia, 2 kali lipat melahirkan bayi prematur, dan 3 kali lipat melahirkan bayi berat lahir rendah sehingga suplementasi besi harus diberikan pada remaja perempuan sejak sebelum hamil.

II.I Suplementasi untuk bayi prematur/bayi berat lahir rendah(BBLR)

Bayi berat lahir rendah(BBLR) merupakan kelompok risiko tinggi mengalami DB.Menurut World Health Organization (WHO), suplementasi besi dapat diberikan secara massal, mulai usia 2-23 bulan dengan dosis tunggal 2 mg/kgBB/hari. Bayi dengan berat lahir rendah memiliki risiko 10 kali lipat lebih tinggi mengalami DB. Pada dua tahun pertama kehidupannya, saat terjadi pacu tumbuh, kebutuhan besiakan meningkat. Bayi prematur perlu mendapat suplementasi besi sekurang-kurangnya 2 mg/kg/hari sampai usia 12 bulan. Suplementasi sebaiknya dimulai sejak usia 1 bulan dan diteruskan sampai bayi mendapat susu formula yang difortifikasiatau mendapat makanan padat yang mengandung cukup besi. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika merekomendasikan bayi-bayi yang lahir prematur atau BBLR diberikan suplementasi besi 2-4 mg/kg/hari (maksimum 15 mg/hari) sejak usia 1 bulan, diteruskan sampai usia 12 bulan. Pada bayi berat lahir sangat rendah (BBSLR), direkomendasikan suplementasi besi diberikan lebih awal.

II.2. Suplementasi untuk bayi cukup bulan

Pada bayi cukup bulan dan anak usia di bawah 2 tahun, suplementasi besi diberikan jika prevalens ADB tinggi (di atas 40%) atau tidak mendapat makanan denganfortifikasi. Suplementasi ini diberikan mulai usia 6-23 bulan dengan dosis 2 mg/kgBB/hari. Hal tersebut atas pertimbangan bahwa prevalens DB pada bayiyang mendapat ASI usia 0-6 bulan hanya 6%, namun meningkat pada usia 9-12 bulan yaitu sekitar 65%. Bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan dan kemudian tidak mendapat besi secara adekuat dari makanan, dianjurkan pemberiansuplementasi besi dengan dosis I mg/kg/hari. Untuk mencegah terjadinyadefisiensi besi pada tahun pertama kehidupan, pada bayi yang mendapatkan ASIperlu diberikan suplementasi besi sejak usia 4 atau 6 bulan. The American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian suplementasi besipada bayi yang mendapat ASI eksklusif mulai usia 4 bulan dengan dosis I mg/kg/hari dilanjutkan sampai bayi mendapat makanan tambahan yang mengandungcukup besi. Bayi yang mendapat ASI parsial (>50% asupannya adalah ASI)atau tidak mendapat ASI serta tidak mendapatkan makanan tambahan yangmengandung besi, suplementasi besi juga diberikan mulai usia 4 bulan dengandosis I mg/kg/hari.

II.3. Suplementasi untuk balita dan anak usia sekolah

Pada anak usia balita dan usia sekolah, suplementasi besi tanpa skrining diberikanjika prevalens ADB lebih Bari 40%. Suplementasi besi dapat diberikan dengandosis 2 mg/kgBB/hari (dapat sampai 30 mg/hari) selama 3 bulan.

II.4. Suplementasi untuk remaja

Suplementasi besi pada remaja lelaki dan perempuan diberikan dengan dosis 60mg/hari selama 3 bulan. Pemberian suplementasi besi dengan dosis 60 mg/hari,secara intermiten (2 kali/minggu), selama 17 minggu, pada remaja perempuanternyata terbukti dapat meningkatkan feritin serum dan free erythrocyteprotoporphyrin (FEP). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) danAAPmerekomendasikan suplementasi besi pada remaja lelaki hanya bila terdapat riwayat ADB sebelumnya, tetapi mengingat prevalens DB yang masih tinggi diIndonesia sebaiknya suplementasi besi pada remaja lelaki recap diberikan. Penambahan asam folat pada remaja perempuan dengan pertimbangan pencegahanterjadinya neural tube defect pada bayi yang akan dilahirkan dikemudian hari.

Rekomendasi 2

Dosis dan lama pemberian suplementasi besi (Rekomendasi A):

Usia (tahun)

Dosis besi elemental

Lama pemberian

Bayi*: BBLR (< 2.500 g) Cukup bulan

3 mg/kgBB/hari ,

2 mg/kgBB/hari

Usia I bulan sampai 2 tahun

Usia 4 bulan sampai 2 tahun

2 – 5 (balita)

I mg/kgBB/hari

2x/minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun

>5 – 12 (usia sekolah)

I mg/kgBB/hari

2x/minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun

12 – 18 (remaja)

60 mg/hari#

2x/minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun

Keterangan:       * Dosis maksimum untuk bayi: 15 mg/hari, dosis tunggal

                        # Khusus remaja perempuan ditambah 400 μg asam folat

 

Bab III. Uji tapis (skrining) massal

Data WHO tahun 1990-1995 menunjukkan prevalens ADB pada negara-negara berkembang adalah 39% (0-4 tahun), 48, 1 % (5-14 tahun) dan 52% (wanita hamil). Data SKRT tahun 2001 menunjukkan prevalens ADB pada bayi 0-6 bulan, bayi 6-12 bulan, dan anakbalita berturut-turut sebesar 61,3%, 64,8% dan 48,1 %, serta 40,1% pada wanita hamil. Ringoringo mendapatkan prevalens ADB pada bayi berusia 0-6 bulan sebesar 38,5%. Berdasarkan data tersebut, saat ini tidak perlu dilakukan uji tapis secara massal dalam pemberian suplementasi besi.

Rekomendasi 3

Saat ini belum perlu dilakukan uji tapis (skrining) defisiensi besi secara massal.

 

Bab IV. Pemeriksaan kadar hemoglobin

The American Academy of Pediatrics (AAP) dan CDC di Amerika menganjurkan melakukanpemeriksaan hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) setidaknya satu kali pada usia 9-12 bulan dan diulang 6 bulan kemudian pada usia 15-18 bulan atau pemeriksaan tambahan setiap I tahun sekali pada usia 2-5 tahun. Pemeriksaan tersebut dilakukan pada populasi dengan risiko tinggi seperti bayi dengan kondisi prematur, berat lahir rendah, riwayat mendapat perawatan lama di unit neonatologi, dan anak dengan riwayat perdarahan, infeksi kronis, etnik tertentu dengan prevalens anemia yang tinggi, mendapat asi ekslusif tanpa suplementasi,mendapat susu sapi segar pada usia dini, dan faktor risiko social lain.

Pada bayi prematur atau dengan berat lahir rendah yang tidak mendapat formulayang difortifikasi besi perlu dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan Hb sebelum usia 6 bulan. Pada anak usia sekolah (5-12 tahun) dan remaja lelaki, CDC hanyamerekomendasikan pemeriksaan Hb dan Ht pada individu yang memiliki riwayatADB.Pada usia remaja, uji tapis dapat dilakukan satu kali antara usia 11-21tahun. Uji tapis dapat diulang setiap 5-10 tahun, kecuali pada remaja perempuanyang telah menstruasi dan mempunyai risiko tinggi, uji tapis dapat diulang setahun sekali. Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalens anemia yang tinggi dan mempunyai kemungkinan etiologi yang beragam. Oleh karena itu, jika dari hasil pemantauan ditemukan anemia, maka perlu dicari penyebabnya.

Rekomendasi 4

Pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dilakukan mulai usia 2 tahun dan selanjutnya setiap tahun sampai usia remaja. Bila dari hasil pemeriksaan ditemukan anemia, dicari penyebab dan bila perlu dirujuk.

 

 

Bab V. Dukungan kebijakan pemerintah

Dalam rangka menurunkan prevalens ADB dan mendukung programnasional pencegahan DB, maka diperlukan dukungan dari pemerintah daninstitusi lain.

Rekomendasi 5

Pemerintah harus membuat kebijakan mengenai penyediaan preparat besi dan alat laboratorium untuk pemeriksaan status besi.

 

Kesimpulan Rekomendasi

Rekomendasi 1

Suplementasi besi diberikan kepada semua anak, dengan prioritas usia balita (0-5 tahun), terutama usia 0-2 tahun.

Rekomendasi 2

Dosis dan lama pemberian suplementasi besi:

Usia (tahun)

Dosis besi elemental

Lama pemberian

Bayi* : BBLR (< 2.500 g)

Cukup bulan

3 mg/kgBB/hari

2 mg/kgBB/hari

Usia 1 bulan sampai 2 tahun

Usia 4 bulan sampai 2 tahun

2 – 5 (balita)

I mg/kgBB/hari

2x/minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun

> 5 – 12 (usia sekolah)

I mg/kgBB/hari

2x/minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun

I 2 – 18 (remaja)

60 mg/hari#

2x/minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun

Keterangan:       *Dosis maksimum untuk bayi: 15 mg/hari, dosis tunggal

#Khusus remaja perempuan ditambah 400 μg asam folat

Rekomendasi 3

Saat ini belum perlu dilakukan uji tapis (skrining) defisiensi besi secara massal.

Rekomendasi 4

Pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dilakukan mulai usia 2 tahun dan selanjutnyasetiap tahun sampai usia remaja. Bila dari hasil pemeriksaan ditemukan anemia,dicari penyebab dan bila perlu dirujuk.

Rekomendasi 5

Pemerintah harus membuat kebijakan mengenai penyediaan preparat besi danalat laboratorium untuk pemeriksaan status besi.

Share