• Subcribe to Our RSS Feed

RUAM POPOK BIKIN KAPOK

May 8, 2014 by     No Comments    Posted under: Baby Care, Child Health

DIAPERSRASH1

RUAM POPOK BIKIN KAPOK

Sebagian besar bayi pernah mengalami “Ruam Popok”, tapi biasanya tidak begitu parah. Lebih dari setengah dari populasi bayi yang berusia 4 – 15 bulan, ruam popok timbul sekurangnya sekali dalam setiap periode 2 bulan. Untuk itu, mari kita kenali lebih dalam tentang penyebab ruam popok dan bagaimana cara untuk menanganinya.
Ruam Popok atau “Diaper’s rash” adalah semua jenis kelainan kulit yang mengenai area yang kontak dengan popok, yaitu di daerah genital (area alat kelamin), pantat, bagian atas dari paha dan perut bagian bawah. Hal ini dapat terjadi karena reaksi yang ditimbulkan dari akumulasi enzim bakteri di feses dan amonia yang menumpuk di popok

Ruam Popk biasanya terjadi pada bayi yang sering buang air besar, terutama jika feses bayi menetap di popok selama semalaman

Banyak faktor pemicu yang dapat menyebabkan terjadinya ruam popok, antara lain:

  1. Kelembaban dan gesekan : Faktor yang paling penting adalah kelembaban di daerah popok. Jika terlalu lembab, fungsi kekebalan pada kulit akan menjadi rusak dan penekanan pada daerah yang teriritasi akan menjadi mudah.
  2. Urin dan feses : Karena enzim yang terdapat pada feses (protease, lipase) yang akan menguraikan urea menjadi amonia, pH akan meningkat dan iritasi kulit akan terjadi.
  3. Mikroorganisme : Candida albicans terdapat pada 80% bayi dengan iritasi pada kulit perineum. Infeksi terjadi pada 48-72 jam setelah iritasi.Bakteri Staphylococcus aureus atau group A streptococci dapat menyebabkan erupsi di daerah yang tertutup popok. Kolonisasi dari S. aureus colonization sering terjadi pada anak dengan dermatitis alergi. Bakteri yang dapat menyebabkan peradangan pada vagina dan lapisan vagina (vulvovaginitis) antara lain : Shigella, Escherichia coli, and Yersinia enterocolitica. Agen infeksius lainnya yang dapat menyebabkan iritasi, inflamasi atau erupsi antara lain virus (coxsackie, herpes simplex, human immuno- deficiency viruses), parasite (pinworms, skabies) dan jamur (tinea)
  4. Faktor Nutrisi : Ruam popok dapat menjadi petanda awal dari kekurangan biotin dan zink.
  5. Iritasi bahan kimia : sabun, detergen dan antiseptik dapat mencetuskan atau meningkatkan iritasi primer pada dermatitis kontak. Dengan menggunakan popok sekali pakai kemungkinan terjadi ruam popok akan menurun.
  6. Antibiotik : Penggunaan antibiotik spektrum luas pada bayi dengan kondisi seperti otitis media dan infeksi saluran nafas terbukti dapat meningkatkan insidensi terjadinya ruam popok. Hal ini terlihat dari peningkatan C. Albicans dari rektum dan kulit pada bayi.
  7. Diare : Produksi cairan feses berhubungan dengan pemendekan waktu transit di saluran cerna, sehingga di dalam feses masih mengandung enzim pencernaan dalam jumlah yang cukup besar.
  8. Abnormalitas perkembangan dari saluran kencing : Adanya kelainan dari saluran kencing akan memudahkan terjadinya infeksi.
  9. Reaksi alergi terhadap bahan dasar popok jika bersentuhan untuk waktu yang cukup lama, dan saling menggesek akan mempermudah terjadinya ruam popok

Ruam popok timbul lebih sering saat :

  1. Bayi yang bertambah usia- sering saat usia 8-10 bulan
  2. Bayi yang tidak dijaga kebersihannya
  3. Bayi yang sering buang air besar, terutama jika feses bayi menetap di popok selama semalaman
  4. Bayi yang sedang diare
  5. Bayi yang memulai mengkonsumsi makanan padat
  6. Bayi yang sedang mengkonsumsi antibiotik atau Ibunya yang sedang mengkonsumsi antibiotik.

diaperrash

Apa yang harus dilakukan jika bayi anda terkena ruam popok?
Jika bayi anda terkena ruam popok, sangat penting untuk menjaga area yang tersentuh popok untuk tetap bersih dan kering, segeralah ganti popok, jika popok basah. Hal ini membantu untuk menjaga kelembapan pada kulit bayi.

Tepuk pelan saat membersihkan area yang terkena popok, jangan menggosoknya

 

  1. Bersihkan area yang tersentuh dengan popok menggunakan air dan kapas lembut. Tisu basah sekali pakai dapat juga digunakan. Hindari penggunaan tisu basah yang mengandung alkohol dan pewangi. Gunakan sabun dan air saja jika feses menempel pada kulit. Jika ruam menjadi parah, gunakan air dengan cara di semprotkan sehingga area tersebut dapat bersih tanpa harus menggosok.
  2. Tepuk pelan saat membersihkan area yang terkena popok, jangan menggosoknya.
  3. Oleskan cream pelindung secara merata dan tebal (berikan yang mengandung zink okside atau jelly petroleum). Oleskan secara tebal, dan jangan dibersihkan sampai dengan penggantian popok berikutnya. Ingatlah, bahwa menggosok kulit secara keras akan menambah kerusakan kulit.
  4. Jangan pakaikan popok terlalu kencang, terutama saat malam hari. Jagalah agar popok terpasang longgar, sehingga bagian popok yang lembab dan basah tidak menggesek bagian kulit terlalu luas.
  5. Gunakan krim steroid jika setelah berkonsultasi ke dokter spesialis anak. Penggunaan krim steroid jarang digunakan dan berbahaya.
  6. Periksakan ke dokter spesialis anak, jika ruam menjadi melepuh atau berisi nanah yang menimbulkan rasa nyeri. Dimana rasa ini tidak hilang atau bertambah berat selama 2 sampai 3 hari.

Kapan saat yang tepat untuk periksakan buah hati anda ke dokter spesialis anak ?
Terkadang ruam popok tidak perlu pengobatan medis. Konsultasikan kepada dokter spesialis anak jika :

  1. Ruam tidak menghilang atau tidak membaik dalam waktu 2 sampai 3 hari setelah pengobatan
  2. Terdapat ruam yang melepuh atau nanah yang menimbulkan rasa sakit
  3. Bayi anda sedang dalam pengobatan antibiotik dan terdapat ruam berwarna merah terang. Hal ini mungkin karena infeksi jamur
  4. Bayi anda sedang demam
  5. Ruam menjadi sangat sakit, mungkin akan timbul selulitis pada bayi anda

Pencegahan :

Jagalah agar daerah popok tetap kering dengan rutin mengganti popok atau melihat sekurang-kurangnya 2 jam atau dapat lebih sering jika anak sedang diare atau pada bayi baru lahir.

 

  1. Gunakan popok sekali pakai dengan daya serap tinggi
  2. Jagalah agar daerah popok tetap kering dengan rutin mengganti popok atau melihat sekurang-kurangnya 2 jam atau dapat lebih sering jika anak sedang diare atau pada bayi baru lahir.
  3. Untuk mengurangi iritasi, pada tiap mengganti popok bersihkan area yang kontak dengan popok dengan menggunakan kapas yang sudah diberi air atau tisu basah khusus bayi yang mempunyai kandungan pengawet yang sedikit, hindari gesekan dan deterjen.
  4. Jika akan terjadi ruam popok, berilah krim yang dioleskan secara topikal yang mengandung air (seperti zinc oxide).
  5. Biarkan anak tidak menggunakan popok pada beberapa waktu dan hindari penggunaan celana pastik yang ketat diluar popok.

Tipe popok yang manakah yang harus saya pilih?

Bagaimanapun, yang lebih penting selain dari jenis popok tersebut adalah seberapa sering popok tersebut diganti.

Popok ada yang dibuat dari kain atau dari material sekali pakai. Kain popok kain dapat dicuci dan dapat digunakan lagi. Sedangkan popok sekali pakai dapat dibuang setelah digunakan.
Jika anda mencuci popok sendiri, anda harus merendam popok dalam waktu yang lama. Cucilah terpisah dengan pakaian yang lain. Gunakan air panas dan bilaslah selama 2 kali. Tidak diperbolehkan untuk menggunakan pelembut pakaian atau produk pelicin pakaian, karena ini akan menyebabkan ruam pada kulit yang sensitif.
Bagaimanapun, yang lebih penting selain dari jenis popok tersebut adalah seberapa sering popok tersebut diganti. Meskipun anda menggunakan popok kain ataupun popok sekali pakai ataupun keduanya, seringlah untuk mengganti popok untuk menjaga agar tetap bersih, kering dan tetap sehat.

 

Share