• Subcribe to Our RSS Feed

Sahabat Baruku

Coba hitung, sudah berapa lama kami, jamaah haji KBIH Labbaik, tinggal di Arab Saudi?
Yup, betul: 23 hari!
What? Tak terasa?
Keluarga di tanah air mungkin tak terasa, tapi kami yang disini…?!

Hidup di negara orang dalam waktu yang “lama”, memang bukan perkara mudah. Berbagai masalah menjadi rintangan kami semua.

Masalah bahasa, misalnya. Walaupun para pedagang sudah “fasih” berbahasa Indonesia (hanya untuk urusan angka), kami sering kesulitan dalam hal tawar menawar harga. Bahasa Tarzan pun akhirnya kami pilih menjadi salah satu solusi. Itu pula yang menyebabkan kami kebanyakan O2 (baca: oleh-oleh, red)

Masalah makanan sering dikeluhkan oleh jamaah, mengingat masakan disini tidak sesuai dengan “selera asal”. Mau masak sendiri, bahan tidak tersedia! Mau beli makanan di warung Indonesia, rasa masakan tidak sesuai dengan harga yang tidak bisa dibilang murah. Mau makan mie instant? Kalau hanya sekali-dua kali, oke. Tapi kalau tiap hari? Mana tahan… Dalam situasi seperti ini, biasanya jamaah menyiasati dengan membeli masakan 1-2 riyal-an yang dijual oleh para TKW. Pada musim haji begini, mereka cuti untuk berjualan masakan Indonesia. Menunya pun bervariasi: ada soto ayam, bakso, sambal terong, kare ayam, sop, sayur bening, tempe goreng, tahu goreng, pindang, bali telur dll.

Masalah jauhnya pondokan dengan masjidil haram sudah tidak kami pikirkan lagi. Bukan karena jarak Bakhutmah – masjidil haram memendek! Tapi kami sadar, sedalam apapun kami mendiskusikan jauhnya pemondokan, tak kan mungkin kami sekonyong2 pindah ke hotel grand zam-zam kan? Atau menuntut pengembalian ONH? Kalaupun dikabulkan, tidak akan merubah apaun selama kami disini. Yang terbaik menurut kami adalah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan menggunakan “kendaraan umum” yang bersedia kami tumpangi dengan bermodalkan uang 2-3 SR.

Masalah cuaca juga menjadi masalah besar bagi kami. Kalau hanya sekedar “panas yang menyengat” atau “dingin yang menusuk”, kami (insyaAllah) bisa atasi.

Tapi bagaimana dengan kelembaban udara yang rendah? Atau angin yang setiap saat selalu menerbangkan debu, dimana virus dan kuman ikut terbang sambil ketawa ketiwi mencari mangsa?

Ditambah dengan kondisi tubuh yang kurang bugar akibat terlalu lelah, jadilah kami punya beberapa sahabat baru: Batuk dan Pilek.

Sahabat? Maksudnya?

Iya… Kata orang bijak: “Jika kamu sudah merasa tidak mungkin mengalahkan musuhmu, maka jalan terbaik adalah hilangkan dendam. Bersahabatlah dengannya… Niscaya kamu akan menikmatinya…”

Kami merasa batuk dan pilek ini sudah kami lawan dengan obat-obatan dari tanah air. Mulai dari obat suntik, syrup, pil bahkan kapsul. Hanya sembuh beberapa waktu, setelah itu kambuh lagi…

Akhirnya kami putuskan untuk menjalin persahabatan dengan mas Batuk dan dik Pilek ini. Dari persahabatan ini kami jadi paham…

Sahabat2 baruku itu akan bertepuk tangan penuh semangat jika kami keluar pondokan tanpa masker…

Sahabat2 baruku itu akan bernyanyi riang jikalau kami minum minuman dingin. Apalagi kalau merokok… Mereka akan segera bernyanyi bersama diiringi orkresta!

Sahabat2 baruku itu akan tertawa renyah tatkala kami lupa minum vitamin…

Sahabat2 baruku itu akan bersiul girang, ketika kami kurang istirahat…

Dan, dari persahabatan ini, kami tahu bahwa mereka akan tumbuh besar dan kokoh apabila kami berucap sesuatu yang sifatnya menyombongkan diri sendiri…

Subhanallah…
Terimakasih sahabat-sahabatku, hari ini engkau telah berikan kami pelajaran berharga…

Satu lagi pelajaran yang bisa kami petik, dengan kehadiranmu disisiku wahai sahabatku… Kami jadi tahu bagaimana makna “sehat” yang sesungguhnya… Bukankah kami sering lupa arti “sehat” jika tidak pernah diingatkan dengan “sakit”?

Dan kamipun berjanji akan selalu bersyukur atas karunia “sehat” ini, yang terkadang tak kami sadari kehadirannya…
Astaghfirullah hal adzim…

Terimakasih wahai sahabat sahabatku….

Karena aku sudah mengambil hikmah dari persahabatan ini, sekarang tiba saatnya kami mengucap pamit… Kami sadar, perpisahan lebih kejam dari perkenalan.

Maafkan aku sahabatku, cukup sampai disini hubungan kita… Engkau memang sahabat baruku, tapi bukan sahabat sejatiku…

*pergi jauh kau dari hidupku… Enyah kau sejauh mungkin… Pergiiiiiiiiiiii….!!!!!*

Share