• Subcribe to Our RSS Feed

Senja di Tepi Laut Merah

Senja di Tepi Laut Merah (catatan perjalanan jamaah KBIH Labbaik ke Jeddah, bagian 2)

​Di tepi laut merah, tampak matahari mulai menundukkan mukanya yang bersemu jingga, hmm… Laksana sang gadis saat dilamar si Jaka… Sementara sang bulan pun bersiap menggantikan tugas seniornya untuk sementara waktu.

Laut merah pun seolah menunduk hormat pada sang mentari, seakan hendak berjabat tangan…, dan siap melambaikan tangannya saat menyambutnya esok pagi.

Sementara itu, di sepanjang tepian laut merah, kami duduk bersila memandang kecantikan laut merah di kala senja, sembari menikmati kudapan ala Indonesia yang banyak dijual disekitar tempat wisata oleh para TKW, mulai dari jagung bakar, bakso, tahu isi, sate ayam, lontong tahu, ote-ote, kelepon dll dengan rasa yang mendekati selera asal. Membuat para jamaah KBIH Labbaik menyerbu para penjual, bagaikan sepasukan semut yang baru saja menemukan gula-gula…

Ah, serasa pulang kampung! Lumayanlah, suasana disini bisa sedikit mengobati rasa kangen kami pada tanah air tercinta.

Senja semakin temaram… Debur ombak pun semakin riuh, saling menegur satu sama lain, seolah mengingatkan kami, bahwa sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. Dan kami pun tahu diri, segera pergi dengan harapan suatu saat akan kembali bersama keluarga besar…

Kami pun melanjutkan perjalanan ke “king fontain” alias air mancur raksasa sambil menikmati katering yang masakannya menjadi masakan terlezat selama kami di Arab Saudi.

Selepas maghrib, kami memasuki pusat kota Jeddah. Tampak nuansa metropolis di setiap sudut kota yang penataannya sangat rapi dan bersih. Kami sempat berkeliling di masjid “Qishosh”. Sebuah masjid yang cukup besar dengan bangunan yang tidak istimewa, disekitarnya ada sebuah danau kecil nan elok dan bersih.

Konon di halaman masjid inilah biasanya dilakukan pelaksanaan hukuman Qishosh. Yang mencuri dipotong tangannya, yang berzina, dihukum rajam atau cambuk. Yang membunuh… Dipenggal kepalanya! Nauudzubillahi min dzaliik…

Disetiap kota besar di Arab Saudi, selalu ada satu masjid qishosh tempat para algojo ‎​beraksi menghunuskan pedangnya, mengayunkan cambuknya dengan memamerkan muka dinginnya…

Sebelum masuk waktu Isya, kamipun telah sampai di Balad, sebuah pusat perbelanjaan yang namanya “Corniche Commercial Center” (orang biasa menyebut “qornesh”) yang kalau di Surabaya, tidak berbeda jauh dengan “pasar atom”

Kamipun dimanjakan dengan aneka barang berkualitas dengan harga “terjangkau”, dan para penjualnya pun kebanyakan orang Indonesia. Tawar menawarpun berlangsung lebih gayeng. Beberapa barang favorite pun diserbu oleh jamaah, seperti parfum, karpet, mainan, kopiah dll.
“Ayo… Indonesia murah…” Teriak para pedagang disana. Yang murah, Indonesia nya? Atau barang-barangnya?

Selain barang-barang diatas, di pusat perbelanjaan ini juga tersedia rumah makan asli Indonesia. Ada nasi campur, ada bakso “Mang Oedin”, dan yang selalu ramai, restauran “Garuda”. Konon masakan di restaurant ini cukup nikmat dengan bumbu2 khas Indonesia.

Share