• Subcribe to Our RSS Feed

SI KECIL LATIHAN BERPUASA, KENAPA TIDAK?

Jun 19, 2017 by     No Comments    Posted under: Child Health

SI KECIL LATIHAN BERPUASA, KENAPA TIDAK?


Berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, bukanlah pekerjaan mudah. Butuh motivasi kuat, iman yang kokoh, fisik yang bugar dan butuh latihan sedari kecil.
Anak, tentu saja bukan miniatur orang dewasa! Selain karena fisik yang kurang kuat, motivasi yang masih angin-anginan, pendirian yang masih labil, serta mempunyai sifat yang cenderung tidak tahan lapar. Untuk itu dibutuhkan trik dan tips khusus untuk bisa sukses melatih anak berpuasa.
Prinsip edukasi pada anak masih tetap diterapkan dalam latihan puasa ini, yaitu: keteladanan dari para orang tua, latihan bertahap, memberikan penjelasan yang sifatnya persuasif dengan susunan kalimat yang mudah dipahami dan (bila perlu) berikan reward.
Umur berapa sebaiknya anak mulai latihan “puasa”?
Secara medis maupun syariat islam, tidak ada patokan atau standar khusus, mulai kapan seorang anak kita latih untuk berpuasa.
Mengacu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi yang artinya “Perintahkanlah anak kecil untuk sholat jika telah berumur 7 tahun…”
Sebaiknya seorang anak kita bantu untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan sejak umur 7 tahun. Tentu saja dilakukan secara bertahap dan kita lakukan pendekatan secara persuatif serta menjauhkan diri dari “pemaksaan kehendak”
Beberapa hal berikut mempengaruhi awitan seorang anak tertarik atau mulai berlatih puasa, antara lain lingkungan sekitarnya (keluarga, sekolah, teman sepermainan, lingkunagan sekitar rumah dll), teladan yang dicontohkan oleh orang dewasa di dalam lingkungan rumahnya (ayah, ibu, kakak, nenek, kakek dll) serta motivasi yang timbul dari diri anak sendiri.
Seorang anak mungkin bertanya, kenapa kita harus puasa? Atau kenapa kita harus menahan lapar dan haus, sementara makanan dan minuman tersedia di rumah? Atau pertanyaan kritis nan lugu, khas kanak-kanak
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, pilihlah jawaban yang bijak yang mudah dimengerti oleh anak, misalnya: “Puasa itu sebenarnya hanya merubah atau memindahkan jadwal makan saja kok, tujuannya untuk mengistirahatkan organ pencernaan (terutama lambung) setelah selama 11 bulan penuh bekerja keras untuk mencerna segala makanan dan minuman yang kita konsumsi, non-stop” atau berikan jawaban “Puasa itu hukumnya wajib bagi orang islam, sama halnya dengan sholat 5 waktu. Saat kita merasakan haus dan lapar, kita diingatkan bahwa rasa itulah yang juga dirasakan oleh orang-orang fakir miskin dan anak yatim piatu…. Dst”
Ada kalanya seorang anak butuh booster supaya semangat dan patuh menjalankan ibadah puasa, untuk itu kita bisa memberikan iming-iming hadiah (reward) kepada anak, manakala si anak berhasil menjalankan puasa sebulan penuh. Saat lebaran tiba, penuhilah janji memberikan hadiah tersebut, jangan sekali-kali membohongi anak karena berdampak negatif dimasa yang akan datang
Pola tidur pada saat bulan puasa, tentu mengalami perubahan dibanding hari biasa. Untuk itu orang tua mesti pinter mengatur jadwal tidur buat si kecil. Siang hari setelah sholat dhuhur, ajak si kecil tidur siang. Setelah menjalani sholat tarawih hendaknya langsung tidur agar tidak kesulitan untuk bangun saat waktu sahur tiba.
Salah satu godaan terberat bagi seorng anak dalam menjalankan puasa adalah rasa haus dan lapar terutama saat siang dan sore hari. Untuk itu kita harus mengatur strategi untuk mengantisipasinya.

Berikut adalah tips menjalankan puasa bijak bagi Anak:

  1. Berikan pengertian yang logis dan persuatif kepada anak tentang makna berpuasa
  2. Batasi aktifitas fisik seperti lari, bermain sepak bola dll. Pilih permainan dengan aktivitas fisik yang minimal, misalnya membaca, menonton TV (pilihkan acara yang edukatif sesuai umur anak), main monopoli, dll
  3. Saat sahur, berikan si kecil makanan yang tinggi serat (buah, sayur, gandum, biji-bjian, kacang-kacangan) untuk memberikan rasa lapar yang tahan lama. Selain itu berikan anak makanan tinggi protein (telur, daging tanpa lemak, tahu, tempe dll) dan susu
  4. Hindari makan makanan yang tinggi zat gula karena hanya akan memberikan rasa kenyang sesaat kemudian akan merangsang timbulnya rasa lapar
  5. Batasi juga makanan yang asin karena mengandung tinggi natrium yang akan menyebabkan anak merasa haus
  6. Saat berbuka puasa, hindari makan makanan dalam porsi yang berlebihan. Sebaiknya setelah minum air putih dan makan kurma, berikan anak kudapan ringan sesuai kesukaannya. Makan malam yang sesungguhnya sebaiknya dilakukan setelah sholat maghrib. Prinsipnya : bertahap dan ada jeda antara berbuka puasa dan dinner
  7. Pilihkan kudapan yang teksturnya lembut dan berair serta aman. Hindarkan (minimalkan) kudapan jenis “gorengan” makanan yang bertekstur keras, karena akan memaksa organ pencernaan untuk kerja keras
  8. Beberapa jenis makanan yang sangat dianjurkan saat sahur dan atau buka puasa adalah kurma, sup, sayur-sayuran dan buah-buahan.
  9. Minum air putih juga harus dalam jumlah yang cukup, yaitu 6-8 gelas sehari. Sebaiknya air putih dengan suhu setara suhu ruang atau suhu tubuh
  10. Hindari makanan yang serba “ter”, misalnya terlalu pedas, terlalu manis, terlalu panas, terlalu dingin dll
  11. Makan sahur sebaiknya dilakukan 30-45 menit menjelang waktu imsyak
    Ajari anak untuk berbuka dengan santai, jangan tergesa-gesa

Beberapa anak, mengalami kesulitan untuk bangun sebelum subuh untuk makan sahur. Berikut beberapa tips agar anak mau makan sahur dengan nyaman:

  1. Berikan pengertian kenapa kita harus makan sahur. Ingat: sahur adalah salah satu sunnah berpuasa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Bersahurlah karena dalam sahur terdapat berkah”
  2. Libatkan si kecil mulai dari memilih menu, belanja bahan makanan, memasak hingga menyiapkan makan sahur sehingga anak makin bersemangat untuk sahur
  3. Sediakan selalu makanan baik itu menu utama maupun kudapan yang menjadi makanan favorit anak
  4. Bisa dicoba metode pemberian reward jika anak ikut makan sahur, minimal pujian dan kecupan sayang dari kedua ortu nya

Apakah boleh jika anak balita, misalnya, usia 4—5 tahun, ingin berpuasa?
Kesiapan berpuasa pada masing-masing anak tidaklah sama, tergantung faktor lingkungan dan kesiapan fisik maupun mental anak. Anak umur 4-5 tahun pun boleh ikut berpuasa, asal orang tua tetap berpegang pada prinsip “lakukan secara bertahap, dan jangan ada paksaan”. Perlu orangtua ingat bahwa perintah berpuasa dalam Al Qur’an diwajibkan bagi orang-orang beriman yang sudah akil balig, dimana pada anak laki-laki ditandai dengan peristiwa mimpi basah, dan pada anak perempuan ditandai dengan datangnya menstruasi. Jadi orangtua juga tidak perlu terlalu berambisi untuk mengikutsertakan balita dalam kegiatan puasa. Orangtua hendaknya memperhatikan kesiapan si anak.

 

Bagaimana dengan konsep puasa setengah hari?

Puasa setengah hari bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif tahapan dalam latihan berpuasa. Tentu saja konsep puasa yang sesungguhnya harus dijelaskan ke anak, bahwa puasa itu menahan hawa nafsu (termasuk makan dan minum) dari terbitnya fajar (waktu subuh) hingga tenggelamnya matahari (waktu maghrib). Jadi anak harus tahu bahwa puasa setengah hari hanyalah sarana latihan saja. Begitu dia masuk akil balig, harus sudah mampu melaksanakan puasa “penuh”.

Apakah puasa setengah hari juga boleh diterapkan pada anak 7 tahun yang mulai latihan berpuasa?
Puasa setengah hari boleh diterapkan pada anak umur 7 tahun atau usia berapapun asal belum akil balig. Prinsipnya, puasa setengah hari merupakan jembatan semata menuju kesiapan puasa “penuh” saat anak sudah akil balig.

Bagaimana jika si kecil yang berusia 7 tahun ternyata tidak kuat puasa sehari penuh atau malah puasanya bolong-bolong (misalnya, hari ini puasa, besok tidak puasa, lusa puasa, dst.)?
Metode puasa “bolong-bolong” juga bisa dijadikan salah satu contoh cara latihan berpuasa. Namun metode ini sebaiknya dilakukan sebelum datang bulan Ramadhan dalam bentuk puasa senin-kamis, sehingga saat bulan Ramadhan, anak sudah siap untuk puasa tiap hari. Target utama kita adalah kesiapan anak berpuasa penuh setiap hari selama sebulan saat dia sudah akil balig.

 

Suasana puasa Ramadhan memberikan nuansa tersendiri dan akan dikenang oleh anak hingga ia dewasa, mulai dari suasan makan sahur, sholat shubuh berjamaah di masjid, suasana buka puasa, sholat tarawih hingga tadarus di masjid. Mari kita ciptakan suasana khas Ramadhan yang indah dan penuh berkah hingga anak-anak kita kelak bercerita ke anak-cucu nya bahwa Ramadhan tahun inilah Ramadhan terindah dalam hidupnya.

Share