• Subcribe to Our RSS Feed

Sparkling Jeddah

Sparkling Jeddah (catatan perjalanan jamaah KBIH Labbaik ke Jeddah, bagian 3, tamat)

Senja berganti malam… bintang-bintang pun gemebyar berlomba menerangi kota Jeddah. Di malam hari begini, kota Jeddah sungguh kelihatan indah menggairahkan. Laksana seorang gadis berbaju pesta, berdandan bak artis idola, dan menyorongkan jari lentiknya pada kekasih hatinya… Sungguh membuat jantung berdebar!

Gedung-gedung tinggi menjulang memamerkan senyum manisnya… Cling…!! Gigi indahnya yang tertata rapi silau oleh sparkling lampu kota penuh warna. Monumen dan tugu di sudut kota sungguh elegan di malam hari, apalagi diterpa lampu dari berbagai angle, terlihat bagai pajangan barang antik dalam etalase.

Semua jamaah dari dalam bus pun, terpana dibuatnya…
Tiba-tiba lamunan kami terputus karena mendengar tembang jawa mengalun dalam bus:
“Yen ing tawang ono lintang, cah ayu… Aku ngenteni tresnamu…”
“Hallo… Waalaikumussalam”
Ah, rupanya hanya sebuah ringtones handphone… Membuat kami teringat tanah jawa, tanah yang gemah ripah loh jinawi… Sejenak kami membandingkan kondisi di Jeddah dengan di Jawa. Semangkok bakso di Jeddah dihargai 5 riyal atau 12.500 rupiah. Kalau di Jawa, sudah dapat 2 mangkok plus 2 es degan, lengkap dengan tahu, mie dan gorengan. Di jeddah yang namanya “bakso” hanya sohun, daun kol, 3 buah pentol ukuran sedang (itupun banyakan tepungnya dari pada dagingnya) plus kuah.
Jagung bakar yang tidak terlalu besar, di Jeddah dihargai 5 riyal atau 12.500 rupiah. Kalau di Jawa, pasti sudah dapat seronjot jagung bakar beserta brondongnya…

Entahlah, ini mungkin salah satu cara Allah menunjukkan betapa beruntungnya kita, lahir dan besar di tanah yang subur makmur, hingga tongkat, kayu dan batu pun jadi tanaman…

Sejenak kami melewati laut merah dan masjid apung. Timbul pertanyaan dalam hati, kenapa dinamakan laut merah? Padahal warnanya biru layaknya laut di belahan bumi manapun?

Penamaan suatu tempat sering kali berkaian dengan kejadian atau peristiwa yg melekat pada tempat tersebut, atau bisa juga karena kedekatan geografis dengan ‎​suatu wilayah. Seperti dinamakan laut jawa krn posisinya berada di utara pulau jawa, samudra hindia krn posisinya berada di selatan India, laut mati karena minim makhluk hidup akibat tingginya kadar garam di laut tersebut.

Disebut “laut merah”, konon karena  di situ banyak tumbuhan laut yg berwarna kemerahan bernama “Erythraeum trichodesmium” (erythro dalam bahasa latin, artinya merah)

Selain Arab Saudi, Laut merah membentang melintasi Yaman, Somalia, Sudan hingga Mesir.  Menyimpan sejarah terkenal dunia mulai ditenggelamkanya fir’aun hingga pembuatan terusan suez dan konflik arab-israel.

SEPEDA NABI ADAM
Tak lengkap rasanya jika pulang ke tanah air belum membawa cerita pernah melihat sepeda onthel-nya nabi adam, inilah tradisi turun temurun jamaah haji semenjak dahulu. Lalu apakah benar itu adalah sepeda nabi adam, karena  mungkin postur nabi adam cocok pas dengan ukuran sepeda tersebut?

Tentu saja ini mengada-ada sepeda baru dibuat manusia pada era abad ke-18 dikembangkan oleh orang jerman bernama Baron Karls Drais von Sauerbron, jangankan nabi adam, orang arab sendiri bercerita jaman dahulu mereka tidak mengenal sepeda yg ada hanya unta, kuda dan keledai, itupun barang yg mahal bagi sebagian mereka.

Lalu dari mana asal mula keberadaan sepeda tersebut?
Umur sepeda ini sudah lebih dari 30 tahun, sengaja dibikin untuk menghiasi jalan ataupun bundaran kota jeddah. Hebatnya sepeda ini dibuat dari sisa bangunan pabrik marmer pertama saudi arabia yg telah dibongkar.

Sepeda raksasa yang berada dibundaran Thalia street itu adalah karya seorang ‘arsitek’ Spanyol bernama Julio Lafuente. Sepeda dengan tinggi 15 meter itu tampak begitu mencolok terutama dimalam hari dengan sorotan lampu lampunya. Dan di tempat lain kita bisa juga menemukan replika globe bumi, kapal pesiar, kapal terbang dsb. Meskipun sudah tau ini bangunan biasa, tetapi tak rugi jika anda menyempatkan lewat “sepeda nabi adam”.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Tak terasa perjalanan Jeddah-Mekkah ‎​harus segera berakhir, karena kami telah sampai di Bakhutmah, depan pondokan maktab 58. Dengan langkah gontai, kamipun turun menuju kamar masing masing, sambil berdoa dalam hati, semoga esok pagi masih diberi kesempatan menikmati keindahan masjidil haram… Masih diberikan kesempatan merasakan kekhusukan sholat subuh disana. Dan berharap pula, agar ada lagi acara city-tour entah ke city mana lagi….

Share