• Subcribe to Our RSS Feed

Syukuran Haji

Syukuran haji, seolah sudah menjadi tradisi di Lamongan, mulai di pedesaan sampai ke wilayah kota. Selain untuk berpamitan dan saling memaafkan. Syukuran haji bertujuan juga sebagai salah satu ungkapan syukur para JCH karena akan memenuhi panggilanNya untuk berkunjung ke baitullah.

Seluruh kerabat, family dan handai taulan pun diundang pada acara tsb. Syukuran haji biasanya dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Quran, diteruskan ceramah seputar ibadah haji dan diakhiri dengan doa, semoga lancar dalam menjalankan ibadah haji dan menjadi haji yang mabrur.

Setelah itu, acara yang ditunggu-tunggu pun digelar, yaitu makan-makan, sambil ngobrol dengan tuan rumah. Setelah itu, barulah dilakukan pembagian “berkat” (biasanya berupa nasi lengkap dengan lauk dan buah) dan “cindera mata”.

Cindera mata inilah sebenarnya yang menjadi daya tarik acara ini, karena undangan akan mendapat kenang-kenangan. Beragam jenis barang, dijadikan cindera mata, mulai dari sembako (biasanya mie instan, minyak goreng, gula, kecap dll), peralatan ibadah (mukena, sarung, sajadah dll) sampai dengan barang barang seperti payung, selimut, piring dsb

Lalu bagaimana dengan syukuran pasca haji alias menyambut kepulangan haji?

Konon, kata beberapa sumber, souvenir untuk peziarah haji sudah disiapkan jauh hari sebelum berangkat haji. Biasanya berupa peralatan ibadah dan makanan khas Arab seperti kacang arab, kacang fustuk, kismis, kurma, dan yang paling ditunggu tunggu: air zam zam.

PGS (Pusat Grosir Surabaya), Pasar Bong di Ampel dan Koperasi RSML menjadi pilihan utama untuk belanja souvenir haji.

Salah satu jamaah KBIH Labbaik, Pak Sukri (bukan nama sebenarnya) membenarkan adanya budaya tersebut. “Kulo ngantos telas sekawan ndoso yuto, pak dokter..”

Ya, biaya yang dikeluarkan untuk syukuran haji bisa melebihi ONH, tergantung jumlah undangan, jenis souvenir dan katering nya. Rata rata sekitar 2000-an undangan yang disebar untuk syukuran yang belum tentu setahun sekali ini.

Pak Broto (bukan nama sebenarnya), jamaah asal Laren bahkan sudah menghabiskan dana hampir 250 juta.

Malu, gengsi atau takut menjadi “rerasan” di lingkungan sekitarnya, menjadi sisi lain mengapa CJH rela mengeluarkan dana sebesar itu.

Niat dan tujuan syukuran haji memang tidak ada cela nya. Tapi bagaimana jika dilakukan secara berlebihan? Sampai sampai menjadi “beban” bagi  jamaah calon haji?

Ingat, tidak semua JCH bisa melunasi ONH karena kemampuannya, ada juga yang ditanggung oleh anak-anaknya atau bahkan harus menjual sawah, sapi, rumah dll demi untuk bisa melakukan ibadah yang hanya diwajibkan sekali seumur hidup?

Share