• Subcribe to Our RSS Feed

TAK ADA AYAH YANG SEMPURNA

Dec 17, 2017 by     No Comments    Posted under: Parenting

Tak Ada Ayah yang Sempurna….

Kedekatan yang mendalam dengan anak, akan menyempurnakannya

Begitu seorang pria memutuskan untuk menikah, saat itu pula statusnya berubah dari pria lajang menjadi seorang suami. Tentu saja perubahan status ini bukan sekadar bermakna sosial belaka, namun mengandung konsekuensi yang tidak mudah: menjadi kepala rumah tangga, menjadi nakhoda dalam sebuah bahtera yang harus tahu betul dimana tujuannya, kemana bahtera akan dilabuhkan, jalur mana yang akan ditempuh, apa yang harus dilakukan jika badai melanda, dll.
Salah satu tujuan mendirikan sebuah rumah tangga adalah untuk memperoleh keturunan. Ketika sepasang suami isteri dikaruniai seorang bayi lucu nan sehat, saat itu segalanya berubah. Status sebagai “suami” akan berubah atau tepatnya bertambah menjadi seorang “ayah”, sebuah status yang teramat berat tanggungjawabnya, teramat suci amanah yang harus diemban. Mengutip apa yang dikatakan oleh ibu Elly Risman, seorang psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, bahwa: “Anak adalah titipan Allah, milik Allah… Kita selaku orangtua nya hanyalah baby-sitter. Kelak akan ada perhitungannya, ada pertanggungjawabannya, ada hisabnya”
Sungguh sebuah amanah yang sangat berat bukan? Begitu si kecil lahir, tak hanya status yang berubah, pola pikir harus juga berubah, semua harus ditujukan untuk satu titik: memberikan yang terbaik untuk anak. Prioritas hidup seorang ayah pada fase ini harus berubah, bukan lagi untuk karir, bukan semata-mata berorientasi pada finansial dan investasi duniawi, tapi harus memikirkan investasi dunia-akherat yang sudah ada di depan mata: ANAK.
Semua orang tua pastilah menginginkan anaknya kelak menjadi anak yang bermanfaat dan berguna bagi lingkungan sekitarnya sehingga bisa membuat orangtua nya bangga sekaligus bahagia. Namun, untuk menjadikan seorang anak menjadi individu yang tangguh dan berkualitas, tidaklah semudah membuat mie instant. Harus dipupuk sejak awal, harus dirajut sejak dini, harus diprogram sejak dalam kandungan, bahkan sejak sebelum menikah!

Kualitas hidup seseorang ditentukan oleh satu organ yang bernama OTAK yang didalamnya mengandung milyaran sel, yang namanya NEURON. Semakin banyak jumlah neuron, semakin tinggi tingkat kecerdasannya. Selain itu kecerdasan seseorang (IQ, EQ, SQ dll) ditentukan pula oleh seberapa banyak dan rumit koneksi antar sel-sel neuron. Semakin tinggi jumlah koneksi, semakin rumit koneksinya, semakin tinggilah tingkat kecerdasan seseorang. Proses pembentukan sel-sel neuron dan koneksi antar sel-selnya terjadi terutama pada awal masa kehidupan. Ketika lahir, otak bayi mencapai 25% ukuran otak dewasa.

Hanya dalam waktu 1 tahun diawal kehidupan seorang bayi, otaknya telah mencapai 70% ukuran otak orang dewasa. Dan pada usia 2 tahun, jaringan otak akan terbentuk 80-90% seperti otak orang dewasa. Jadi Anda bisa bayangkan betapa pesatnya pertumbuhan otak pada 2 tahun pertama. Pada masa inilah terbentang luas kesempatan bagi orangtua untuk membangun pondasi yang kokoh bagi kepribadian dan karakter anak. Jika pada masa ini anak mendapatkan hal-hal positip, maka akan berdampak positip pula bagi tumbuh-kembang anak selanjutnya. Jika anak menerima yang sebaliknya, maka hal negatip akan terjadi pada anak dan akan ditanggungnya seumur hidup!

Jadi pilihan ada pada Anda: use it or lose it. Jika fase “golden age” tumbuh kembang anak ini berlalu, sang waktu tidak akan berkompromi atau sekedar memberikan sedikit toleransi. Tidak! Sang waktu akan melambaikan tangannya ke Anda sembari memamerkan senyum culasnya.
Untuk bisa tumbuh dan berkembang secara optimal, dibutuhkan 4 kebutuhan dasar, yang jika tidak dipenuhi bisa berdampak pada kegagalan mencapai tahapan tumbuh-kembang yang sesuai umurnya, bahkan bisa bertahan menjadi sebuah kecacatan permanen seumur hidupnya. Keempat kebutuhan dasar itu adalah: Asuh (kebutuhan fisik-biomedis, seperti nutrisi, imunisasi, kesehatan, pakaian, tempat tinggal, sanitasi lingkungan dll), Asih (kebutuhan kasih sayang) dan Asah (kebutuhan akan stimulasi mental)

PERAN AYAH
Sebagai kepala rumah tangga, tentu tugas utama ayah adalah mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Namun jangan pernah melupakan tugas penting seorang ayah yaitu berperan aktif dalam pengasuhan anak.
Dalam masalah pengasuhan anak, seringkali ayah dianggap “orang kedua” setelah ibu. Padahal peran ayah tidak kalah penting dengan ibunya. Salah satu pakar child psichiatry dari Yale University, Kyle D Pruett menjelaskan tentang manfaat keterlibatan aktif sang ayah dalam pengasuhan anak, antara lain
Anak akan mempunyai tingkat intelegensia yang lebih tinggi
Anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang mudah bersosialisasi dan tidak mudah frustasi.
Akan mempengaruhi pandangan anak terhadap lawan jenis. Anak laki-laki yang melihat cinta ayah kepada ibunya akan bertindak sama kepada pasangannya. Pada anak perempuan, kedekatan dengan ayah membantu mereka  memahami laki-laki.
Saat menginjak remaja, kecenderungan keterlibatan dengan masalah kenakalan remaja, lebih kecil
Saat memasuki dunia kerja, mereka lebih konsisten dalam pekerjaannya dan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik

Seorang ayah akan memberikan suasana dan perspektif yang berbeda dalam hal merawat anak jika dibandingkan dengan cara pengasuhan ibu. Saat seorang ayah menggendong bayi, perhatikan cara menimangnya, cara berkomunikasi dan cara meletakkan kembali ke peraduan. Ayah akan memberikan sensasi dan pengalaman tersendiri bagi bayi. Saat bermain pun, seorang ayah cenderung mengajak bermain aktif mengejar, menggelitik, bermain monster, serta membantu anak belajar keseimbangan. Seorang ayah biasanya cenderung memancing anak keluar dari zona nyamannya dan lebih berani mengambil risiko. Pendek kata, gaya komunikasi dan interaksi antara ayah dan anak, berbeda dengan pola interaksi ibu-anak yang cenderung didominasi oleh komunikasi verbal. Dengan bermain bersama ayah, anak akan merasa lebih bebas, lebih aman, lebih berani dan lebih percaya diri.
Jadi pengasuhan anak oleh ibu dan ayah yang masing-masing terlibat aktif, dapat saling melengkapi dalam rangka mencukupi kebutuhan dasar anak (Asah, Asih dan Asuh) agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.
Lalu, kegiatan apa yang sebaiknya dilakukan ayah dalam berperan aktif dalam pengasuhan anak?
Sebenarnya semua kegiatan yang bisa dilakukan oleh ibu dalam hal pengasuhan anak, bisa dilakukan oleh ayah, kecuali menyusui!
Berikut adalah prioritasnya:
1. Komitmen.

Ayah harus berinisiatif membuat komitmen tentang parenting, tentang arah dan tujuan pengasuhan anak. Bersama pasangan, ayah harus banyak belajar tentang parenting, dan membangun bersama sebuah komitmen yang harus dijalankan dengan konsistensi tinggi. Tentu dengan melibatkan orang-orang yang terkait baik langsung maupun tidak langsung terhadap pengasuhan anak, seperti kakek, nenek, pengasuh dan pekerja rumah tangga.
2. Keteladanan.

Sebagai kepala rumah tangga, ayah adalah pusat rujukan dari segala hal-hal baik dan positip yang akan diingat dan ditiru oleh anak. Dalam fase tumbuh-kembang nya, anak dibawah usia 5 tahun adalah peniru ulung yang akan menggunakan orangtuanya sebagai role model. Jika ayah mengajarkan seorang anak agar selalu menggosok gigi sebelum tidur, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah memberi contoh perintah tersebut dengan menggosok gigi setiap malam sebelum tidur dan dilakukan di depan anak. Bukankah keteladanan itu lebih bermakna dari pada 1000 nasehat?
3. Disiplin

Kebiasaan melaksanakan kebiasaan baik harus dimulai sejak dini. Kedisiplinan harus ditanamkan sejak bayi. Tak perlu dengan cara represif. Latihlah anak disiplin dengan cara persuatif disertai penjelasan logis dengan bahasa yang mudah diterima oleh anak. Disiplin memerlukan contoh nyata. Ayahlah figur yang tepat untuk diteladani. Beberapa hal yang bisa kita jadikan latihan disiplin dan melatih kebiasaan baik antara lain: mengucapkan terimakasih, meminta maaf, meminta tolong dengan santun, berdoa sebelum dan sesudah makan, menggosok gigi sebelum tidur, mencium tangan orangtua, makan dan tidur tepat waktu dll. Semua tergantung kesepakatan awal dan komitmen yang dibangun oleh orangtua.

4. Terlibat Aktif
Sebagai seorang ayah, Anda sebaiknya terlibat aktif dalam kegiatan yang sarat bonding, misalnya mengganti popok, memandikan bayi, memijat bayi, menggendong, menyuapi makan, bermain bersama dll.
Lakukan kegiatan diatas dengan ikhlas dan penuh kasih sayang
Jangan sekali-kali melakukan kegiatan diatas karena terpaksa, karena takut dengan isteri, karena takut dengan mertua, ataupun demi mendapatkan pujian.
Jaga agar selama berkegiatan terjadi kontak mata dengan bayi.
Singkirkan segala bentuk gadget, televisi maupun media lain saat melakukan kegiatan diatas.
Saat berkomunikasi dengan bayi, perhatikan bahwa sebelum umur 6 bulan, jarak pandang bayi adalah sekitar 30 cm. Oleh karena itu dekatkan wajah anda 30 cm dari mata bayi saat memanggil atau bermain cilukba dengan bayi.

 

5. Dongeng sebelum tidur

Banyak orang tua yang membiarkan anaknya terlelap dengan bantuan televisi ataupun gadget. Selain paparan gelombang elektromagnetik dari layar monitor yang kurang baik bagi kesehatan, juga karena media televisi dan gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, TANPA melibatkan beberapa eleman penting dalam proses stimulasi, yaitu interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motoric dan emosi. Dongeng sebelum tidur jauh lebih bermanfaat dari pada perangkat digital apapun. Mendongeng bisa menggunakan alat bantu buku-buku yang full colour, boneka tangan atau menegandalkan gaya bertutur, intonasi dan ekspresi wajah. Mendongeng tidak hanya menidurkan tapi juga mengandung berbagai manfaat, antara lain: meningkatkan kemampuan mendengar sekaligus kemampuan verbal anak, menghidupkan daya imajinasi, mengajarkan nilai-nilai kehidupan, meningkatkan kreativitas, meningkatkan kecerdasan emosional, membangun minat baca anak, meningkatkan rasa empati, melatih daya ingat anak, dan memperbaiki kemampuan berkomunikasi. Sebaiknya mendongeng dilakukan oleh ayah sambil memijat lembut bagian tubuh si kecil (kaki, tangan, punggung dll)
6. Antar jemput sekolah

Mengantar-jemput anak, walaupun membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, namun bisa meningkatkan bonding antara ayah dan anak. Lakukan kegiatan ini walaupun hanya seminggu sekali. Kalau bisa, buatlah jadwal tetap dan kontinyu, maka anak akan menantikan saat kebersamaan ini. Pada saat perjalanan dari rumah ke sekolah, ayah bisa bernyanyi bersama dengan bantuan musik di dalam mobil, bisa juga bermain tebak-tebakan, atau sekedar menceritakan pengalaman lucu. Lakukan komunikasi dua arah dan buatlah suasana yang menyenangkan.
7. Quality Time

Merayakan libur akhir pekan bersama anak-anak merupakan quality time yang selalu dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga. Tidak harus dirayakan di luar rumah, kegiatan indoor pun bisa jadi alternatif yang menyenangkan, asal melibatkan anak-anak sejak fase perencanaan. Kegiatan berkebun, memasak bersama, bersepeda keliling perumahan, menonton film anak-anak, jalan-jalan ke mall, makan bersama di restoran, ataupun mengunjungi toko buku, bisa dijadikan pilihan. Libatkan anak sejak dalam proses pemilihan jenis kegiatan, perencanaan, pemilihan tempat hingga membeli bahan-bahan keperluan akhir pekan. Jangan lupa untuk menon-aktifkan gadget Anda sampai anak-anak tertidur pulas.

Peran ayah dalam pengasuhan anak ternyata memegang peran utama bersama-sama dengan sang Bunda. Ayah bukanlah figuran apalagi cameo yang hanya numpang lewat sebagai pelengkap.
Di era yang serba digital seperti sekarang ini, tentu saja gawai dan perangkat elektronik lain yang menyajikan gambar hidup, menjadi tantangan utama, bukan saja terhadap anak, orangtua pun bisa kena dampak negatifnya. Disinilah keteladanan, kedisiplinan dan konsistensi melaksanakan komitmen parenting sangat dibutuhkan. Tantangan lain yang dihadapi oleh orangtua terutama ayah adalah bagaimana menciptakan komunikasi yang efektif dengan anak. Setelah sekian jam fokus ke dunia kerja, ditambah dengan perjalanan pulang yang macet dan melelahkan, tentu keluarga mendapatkan waktu “sisa” yang sempit. Disinilah para ayah harus belajar berkomunikasi efektif dengan anak. Tidak mudah bukan?
Mari belajar dan terus belajar tentang parenting, ilmu dan seni pengasuhan anak, yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah maupun kuliah, bahkan di Fakultas Kedokteran sekalipun. Belajar secara otodidak tidak ada salahnya. Belajar dari cara pengasuhan orangtua kita, harus hati-hati, karena situasi dan kondisi jaman kita kecil berbeda dengan era sekarang.

Ditulis oleh: Taufiqur Rahman
Ayah (yang tak sempurna) dari 3 anak.
Facebook: Taufiqur Rahman
Instagram: @taura_taura

Share