• Subcribe to Our RSS Feed

Titip Rindu Buat Ayah

Makkah, 2 Nopember 2011

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam waktu Arab Saudi, tapi mata ini belum mau terpejam. Aku pandangi seluruh dinding kamar seluas 4 x 5 m yang dihuni 6 orang dengan berbagai karakter. Terbayang olehku aktivitas hari ini yang cukup melelahkan karena harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk menuju masjidil haram, ditambah harus berdesak desakan mencari tempat untuk membentangkan sajadah.

Usai sholat, kami tidak pernah bisa langsung pulang, karena harus berdesak-desakan keluar masjid. Apalagi saingan kami orang dari benua Afrika, Eropa dan timur tengah yang tingginya menujulang sekitar 1,8 m, badan tegap, gempal dan penuh tenaga. Pastilah kami akan KO dibuatnya. Perlu waktu 30 hingga 60 menit menunggu hingga gelombang lautan manusia dengan beragam warna kulit itu mulai mereda. Untuk keluar ke pelataran masjid hingga sampai jalan raya dibutuhkan waktu minimal 20 menit. Bukan karena jaraknya yang terlampau jauh, tapi karena antri dan memilih jalan terlonggar.

Sampai di jalan raya, kami harus berjalan sejauh 1 km menuju kawasan pemberhentian angkutan umum, karena jalanan menuju masjidil haram, pada musim haji begini, disterilkan dari kendaraan roda 4, kecuali mobil polisi. Syukur-syukur kami dapat tumpangan kendaraan, kalau tidak, harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sejauh 2 km lagi. Subhanallah… Terasa begitu nikmat ibadah yang kami jalani dengan penuh perjuangan

Segera teringat kebiasaan di tanah air… Untuk menuju masjid hanya butuh waktu 5 menit, tapi beratnya, masya Allah… Selalu saja ada alasan untuk menunda sholat berjamaah! Astaghfirullah.

Tiktaktiktak… Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WAS, masih saja kedua kelopak mata ini belum mau terpejam. Kutatap satu persatu teman teman sekamar yang sudah pada mendengkur kelelahan. Ada Pak Junaedi yang paling pendiam diantara kami, disebelahnya ada Pak Sugiono yang paling rajin diantara 6 orang. Bapak 39 tahun ini selalu bangun paling pagi dan selalu membiarkan alarm berbunyi nyaring seraya membangunkan seluruh penghuni kamar.

Tiba tiba pandanganku terpaku pada sosok tua nan lugu… Ya, dia adalah Mbah Esan, lelaki 69 tahun asal Karang Tawar Laren ini tampak begitu kurus dan legam, mengingatkanku pada lagu “Titip Rindu Buat Ayah”nya Ebiet G. Ade “Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini. Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan. Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm. Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar. kau tetap setia…”

Ya, gambaran sosok Mbah Esan memang pas dengan lagu diatas. Beliau tidak pernah sekalipun mengeluh apalagi meratap. Semua prosesi ibadah haji dijalani dengan ikhlas dan sabar. Setiap berangkat dan pulang ke masjidil haram, thawaf, serta sa’i. Beliau selalu mengikuti kami yang jauh lebih muda karena takut tersesat.

Namun demikian beliau tak pernah sekalipun menyulitkan kami. Seramai apapun, se”uyel-uyel”an apapun, beliau selalu berada di belakang atau disamping kami. Bahkan saat mendaki bukit Jabal Rahmah, kami dibuat kaget karena tiba tiba beliau sudah ada di puncak bukit mendahului rombongan yang jauh lebih muda. Kami hanya bisa berdecak kagum… Mbah Esan yang setua ini bisa mendaki bukit tanpa berhenti mengambil napas, bisa berjalan jauh tanpa keluh kesah, mampu mengelilingi ka’bah 7 kali tanpa sekali pun mengaduh, mampu berdesak-desakan melawan orang-orang yang jauh lebih tinggi, jauh lebih besar dan jauh lebih kuat.

Sejenak aku terpaku, terdiam diantara detak suara jam dinding, seraya merenung… Pantaskah kami, yang jauh lebih muda dari Pak Esan, jauh lebih kuat dari pak Esan, jauh lebih “roso” dari pak Esan, mengeluh karena jauhnya penginapan? Mengaduh kelelahan usai mengelilingi ka’bah 7 kali? Meratapi betapa susahnya kami menembus gerombolan orang tinggi besar untuk mencapai pintu masjidil haram?

Subhanallah… Astaghfirullah… Ya Allah, ya Rabb, berilah hamba kekuatan lahir dan batin agar selalu ikhlas dan sabar dalam menjalankan perintahMu… 

Dedicated for my Abah… I miss you so much…Robbanaghfirlii waliwaalidayya walil mu’minina yauma yaquumul hisaab

Share