• Subcribe to Our RSS Feed

Transportasi dari penginapan ke masjidil haram

“Bakhutmah Bakhutmah!!!” Teriak salah satu jamaah haji asal Lamongan sambil melambaikan tangan dengan posisi kelima jari tangan disatukan. Demikianlah cara jamaah mencari tumpangan untuk pulang ke penginapan setelah melakukan sholat berjamaah di masjidil haram. Salah satu kendaraan roda 4 pun segera berhenti dan terjadilah tawar menawar ongkos tumpangan yang biasanya berkisar 2-3 SR atau 5000 hingga 7500 Rupiah untuk jarak tempuh yang mencapai 3 km.

Tidak terlalu mahal untuk ukuran Indonesia, daripada harus jalan kaki… Selain capek, ada resiko tersesat, mengingat posisi Maktab 56, tempat jamaah haji kloter 54 tinggal, terletak di kawasan perkampungan yang terdiri dari banyak blok dan banyak gang.

Apalagi jenis kendaraan roda 4 yang digunakan sebagai angkutan umum di Mekkah boleh dibilang cukup berkelas dengan kapasitas mesin diatas 2500 cc. Toyota Innova adalah salah satu kendaraan umum yang paling sering dijumpai selain Toyota Camry (taxi). Selain itu juga ada Nissan Navara, GMC suburban, GMC Yukon XL, Toyota Hillux, Toyota Hiace 2700, Toyota Land Cruiser dll

Sedangkan mobil sejuta umat “khas” Indonesia, seperti Avanza dan Xenia tidak ada sama sekali di Mekkah. Demikian juga dengan mobil hatch-back atau city-car semacam Toyota Yaris, Honda Jazz, Suzuki Karimun, Suzuki splash dll, yang sering kali wara-wiri di jalanan Lamongan, tidak dijumpai di kota Mekkah

Bagaimana dengan sepeda motor? Kalau di Indonesia, pengguna jalan raya didominasi oleh sepeda motor, di kota suci ini hanya satu-dua sepeda motor yang lalu lalang di jalan.

Sarana transportasi dari dan menuju masjidil haram menjadi alat bantu yang cukup vital, mengingat tingginya hasrat untuk selalu menjalankan sholat jamaah di masjidil haram, tapi jarak terlampau jauh, sementara menjaga kebugaran menjelang wuquf adalah suatu keharusan. Jadilah naik kendaraan umum menjadi solusi terbijak agar stamina tetap layak.

Share