• Subcribe to Our RSS Feed

TUBERCULOSIS: A NEVER-ENDING STORY

Apr 23, 2017 by     No Comments    Posted under: Child Health

Nakita edisi 938 tahun 2017

Tuberculosis: A Never-Ending Story

Penyakit Tuberculosis (TBC) tergolong penyakit menular yang bisa diobati (curable) sekaligus bisa dicegah (preventable) dan sudah lama ditemukan. Namun hingga kini masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia, sehingga TBC dijadikan salah satu indikator keberhasilan pencapain Millennium Development Goals (MDGs), hingga akhirnya pemberantasan TBC menuju DUNIA BEBAS TBC tahun 2030, menjadi salah satu target SDGs (Sustained Development Goals).
Kuman “Mycobacterium tuberculosis” sebagai penyebab penyakit TBC ditemukan oleh Dr. Robert Koch pada 1882. Dan jauh sebelum itu para peneliti menemukan adanya pembusukan TBC di dalam tulang belakang mumi-mumi Mesir dari tahun 3000-2400 SM. Jadi penyakit TBC sebenarnya telah ada dimuka bumi ini sejak berabad-abad yang lalu.
Namun hingga saat ini, tidak ada satu negara pun di dunia yang dinyatakan bebas TBC. WHO (2016) melaporkan bahwa TBC masuk dalam 10 besar penyakit penyebab kematian terbanyak sepanjang tahun 2015 ( total 1,8 juta kematian karena TBC). Dan tercatat adanya 10,4 juta penemuan kasus baru sepanjang 2015, dan 60% diantaranya terjadi di 6 negara dengan prevalensi TBC tertinggi, yaitu: India, Indonesia, China, Nigeria, Pakistan dan Afrika Selatan. Kasus TB di Indonesia mencapai 1 juta kasus pada tahun 2014 , dengan 110.000 kematian setiap tahunnya.
Mengapa kasus TBC sulit dikendalikan?
Ada beberapa alasan mengapa TBC di Indonesia sulit dikendalikan bahkan angka kejadiannya cenderung meningkat, antara lain:

  1. Lamanya pengobatan TBC (6-12 bulan) ditambah tingkat kepatuhan penderita yang rendah membuat sebagian besar penderita merasa sudah sembuh dan berhenti minum obat, walaupun belum selesai program pengobatannya. Kelompok penderita yang seperti ini akan dengan aktif menularkan TBC di sekitarnya
  2. Meningkatnya angka infeksi HIV/AIDS yang sering kali ditumpangi infeksi TBC
  3. Makin maraknya kasus TBC yang resisten dengan Obat Anti TBC standar atau biasa disebut MDR-TB (Multi Drugs Resistant). WHO memperkirakan adanya 480.000 penderita MDR-TB di tahun 2015 dan memprediksi timbulnya 25.000 kasus MDR-TB pada anak setiap tahunnya. Angka ini akan terus bertambah sehingga mempersulit pemutusan rantai penularan. Beberapa ahli menyatakan bahwa penderita MDR-TB akan menularkan dan menelurkan kasus MDR-TB baru!
  4. Adanya penderita “TBC laten”, dimana tubuh terinfeksi kuman TBC tapi tidak ada gejala atau manifestasi “sakit TBC”. Pada kondisi tertentu dimana daya tahan tubuh menurun, penyakit TBC akan muncul. Penderita TBC laten ini sebagian besar tidak tahu dan tidak merasa sakit sehingga tidak minum obat. Sementara kuman TBC terus memburu mangsa baru disekitarnya.

TBC pada Anak
11% dari seluruh kasus TBC adalah anak-anak. Setidaknya ada 1 juta anak menderita TBC setiap tahunnya di seluruh dunia. Laporan WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2015 terjadi 210.000 kasus kematian anak yang disebabkan karena penyakit TBC. Beberapa peneliti memperkirakan bahwa terdapat 67 juta anak terinfeksi kuman TBC (TBC laten) dan beresiko berkembang menjadi “sakit” TBC di kemudian hari. Seorang anak akan mengalami sakit TB setelah 1 tahun terinfeksi (terkena paparan kuman TBC). Sehingga TBC pada anak merupakan indikator adanya transmisi aktif kuman M. Tuberculosis di lingkungan sekitar.
Berbeda dengan TBC dewasa yang sangat menular, tidak semua TBC pada anak bersifat menular, hanya beberapa kasus dimana ditemukan kuman TBC di dalam dahaknya saja yang bisa menular dengan angka penularan berkisar 65%. Faktor risiko penularan TBC pada anak tergantung dari tingkat penularan, lama pajanan, dan daya tahan tubuh anak.
Kelompok usia anak-anak memiliki resiko lebih besar untuk terjadi kasus “TBC berat” yaitu TBC yang berisiko menimbulkan kecacatan berat atau kematian, misalnya TBC meningitis, TBC milier, TBC tulang dan sendi, TBC ginjal, TBC hati, TBC usus dll.
Anak-anak dengan kondisi berikut ini memiliki risiko yang lebih besar terjangkitnya penyakit TBC: anak yang hidup serumah atau kontak erat dengan penderita TBC dewasa (terutama yang dalam dahaknya ditemukan kuman TBC), anak dengan gizi buruk dan anak dengan HIV positip

Bagaimanakah kuman TBC ditularkan?
Penyakit TBC ditularkan oleh orang dewasa yang menderita TBC aktif melalui percikan air liur atau dahak yang keluar saat batuk, bicara, berteriak, bersin atau bernyanyi. Percikan dahak yang mengandung kuman TBC ini bila terhirup dan masuk paru-paru dan akan menyebabkan terjadinya infeksi TBC. Kuman TBC bisa menyerang hampir semua organ tubuh manusia, namun yang paling sering (pada anak) menyerang kelenjar getah bening dan paru-paru.

Gejala dan tanda penyakit TBC
Berbeda dengan orang dewasa yang memberikan gejala batuk lama > 3 minggu, batuk darah, berat badan makin turun dan keluarnya keringat dingin pada malam hari, TBC pada anak tidak memberikan gejala yang khas, sehingga bukan perkara mudah bagi seorang dokter untuk menegakkan diagnosis TBC pada anak. Berikut gejala UMUM dari TBC pada anak:

  1. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan tidak naik dalam 1 bulan setelah diberikan upaya perbaikan gizi yang baik.
  2. Demam lama (≥2 minggu) dan/atau berulang tanpa sebab yang jelas. Demam umumnya tidak tinggi.
  3. Batuk lama ≥3 minggu, batuk bersifat non-remitting (tidak pernah reda atau intensitas semakin lama semakin parah).
  4. Nafsu makan tidak ada atau berkurang
  5. Lesu atau malaise, anak kurang aktif bermain.
  6. Diare >2 minggu yang tidak sembuh dengan pengobatan baku diare.

Selain gejala umum diatas, ada kalanya terjadi gejala KHUSUS atau spesifik, tergantung organ mana yang terkena, antara lain:

  • Pembesaran kelenjar getah bening (biasanya berlokasi di sekitar leher) yang bersifat multipel (> 1), diameter > 1 cm, tidak nyeri, dan kadang saling melekat
  • Kejang, kesadaran menurun dan gejala lain terkait saraf otak yang terserang (TBC otak/ meningitis)
  • Adanya penonjolan tulang belakang (gibbus), pincang, gangguan berjalan, nyeri tulang dll (TBC tulang)
  • Adanya luka borok di kulit yang berair dan sulit sembuh (TBC kulit)
  • Tuberkulosis organ-organ lainnya misalkan TBC ginjal, TBC dinding perut, TBC mata, dicurigai jika ditemukan gangguan pada organ-organ tersebut tanpa sebab yang jelas dan disertai kecurigaan

Selain memperhatikan gejala dan tanda klinis, penegakan diagnosis TBC pada anak juga dikombinasikan dengan adanya riwayat kontak (terutama yang hidup dalam 1 rumah) penderita TBC dewasa, pemeriksaan penunjang yang relevan (antara lain ditemukannya kuman dalam dahak, test patologi anatomi dari jaringan kelenjar getah bening atau uji tuberculin). Diagnosis TBC pada anak TIDAK BOLEH hanya didasarkan pada foto rontgen dada. Pemeriksaan serologi TBC ( TB-ICT) juga tidak direkomendasi.

Penatalaksanaan TBC Anak
Penatalaksanaan TBC pada anak meliputi pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan pemberian asupan gizi yang cukup (makan makanan dengan gizi berimbang).
OAT diberikan dalam bentuk KDT (Kombinasi Dosis Tetap) atau FDC (Fixed Dose Combination) selama 6-12 bulan, tergantung tingkat keparahan penyakit dan organ yang terserang.
Pemberian OAT jangka panjang ini dibagi menjadi 2 fase: fase intensif selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 4-10 bulan. Pada fase intensif, obat KDT mengandung 3 obat yaitu Isoniazid, Rifampicin dan Pirazinamid. Sedang fase lanjutan, KDT hanya mengandung 2 macam obat (Isoniazid dan Rifampicin)
Obat dalam bentuk KDT harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelah ataupun dijadikan puyer. Obat dapat diberikan dengan cara ditelan secara utuh ataupun dilarutkan air sesaat sebelum diminum.
Kepatuhan dan ketepatan minum obat KDT ini menjadi salah satu kunci sukses pengobatan TBC. Dengan pengobatan yang teratur sesuai standar, angka keberhasilan pengobatan mencapai 83% pada tahun 2014

Pengendalian dan Pencegahan TBC
Pengendalian TBC dimulai dari penemuan dan penegakan diagnosis secara tepat, diikuti dengan pengobatan sesuai standar.
Perbaikan lingkungan dengan memperhatikan syarat rumah sehat (bersih, cukup ventilasi udara dan ventilasi sinar)
Pencegahan utama tentu saja dengan mengobati semua penderita TBC terutama penderita aktif (ditemukan kuman TBC dalam dahak) dengan benar sesuai standar, sehingga bisa mengurangi resiko penularan TBC pada anak.
Pencegahan penularan dan infeksi pada orang serumah serta fasilitas pelayanan kesehatan merupakan komponen penting pada kontrol dan tatalaksana TBC pada anak
Sistem imunitas pada anak juga mempengaruhi terjadinya infeksi atau sakit TBC pada anak. Disinilah pentingnya program perbaikan gizi masyarakat
Pemberian vaksinasi BCG pada bayi usia 0-2 bulan di bahu kanan, tidak sepenuhnya bisa mencegah terjangkitnya infeksi TBC tapi terbukti bisa melindungi anak dari sakit “TBC berat”
Pada TBC anak dikenal adanya “Terapi Profilaksis”, yaitu diberikannya OAT jenis Isoniazid kepada semua balita yang kontak dengan penderita TBC aktif walaupun tidak terbukti terjadi infeksi TBC.
Jadi, selain angka kesakitan dan kematian TBC pada anak yang cukup tinggi, ternyata ada banyak hal yang patut diperhatikan, antara lain: sulitnya menegakkan diagnosis TBC anak mengingat gejalanya yang tidak khas, penatalaksanaannya butuh waktu lama dan multifaktorial, hingga pengobatan profilaksis yang melibatkan anak yang tidak sakit.
Pemberantasan penyakit ini hingga ke akar nya, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak cukup hanya pemerintah, dinas kesehatan, ataupun puskesmas saja yang menggerakkan lokomotif, tapi dibutuhkan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan, membantu menemukan kasus baru hingga membantu pengawasan keteraturan minum obat bagi semua penderita TBC.

Share