• Subcribe to Our RSS Feed

Welcome to Madinah

Madinah 21 Nop 2011
“Assalamu’alaikum… Ya akhi, ya ukhti… Assalamu’alaikum Ya akhi, ya ukhti… Salam salam hai saudaruku…”

Lagu dari Opick yang aku jadikan alarm di handphone ku, terdengar nyaring. Membangunkanku dari tidur nyenyak ku.

“Uaaaaggghhh…. Jam berapa ini?” Gumamku dalam hati. Sudah jam setengah empat pagi rupanya…
Segera aku buka selimut, dan…. Brrrrrrgghhhh… Hawa dingin segera terasa di sekujur tubuh. Seingatku, semalam sebelum tidur, AC sudah kami matikan. Kenapa pagi ini dingin sekali ya? Ah, kota Mekkah memang sulit diprediksi… Ups! Ini kan Madinah… Ya, madinah!

Terbayang olehku bagaimana riuhnya seluruh jamaah kloter 54 SUB siang tadi berduyun-duyun menuruni tangga menuju lantai dasar untuk segera diberangkatkan menuju Madinah, sementara para pekerja kasar, sibuk menaikkan tas koper keatas bus.

Lama kami menunggu keberangkatan karena harus mengurusi masalah paspor hingga kelar. Sekitar jam 3 siang, kami pun berangkat dengan 10 bus. Satu rombongan masing-masing 44-45 jamaah bergabung dalam 1 bus.

Sepanjang jalan antara Mekkah-Madinah yang berjarak kira-kira 450 km terasa amat membosankan karena di kanan kiri jalan bebas hambatan hanya pemandangan padang pasir yang tandus diselingi tanaman perdu dan terkadang tampak segerombolan unta sedang asyik berjalan, entah kemana tujuan mereka.

Sepanjang perjalanan ini, pilihan terbaik untuk menghabiskan waktu adalah tidur, tentu sambil bertasbih dalam hati…

Tiga jam kemudian, kami berhenti di rest area dan istirahat sekedar meluruskan kedua tungkai, minum teh hangat dan ke toilet.

Jangan membayangkan rest area disini seperti rest area di jalan tol Sidoarjo-Surabaya. Bagai langit dan bumi. Disini hanya ada “restoran” sekelas warung pojok, itupun hanya satu dan dilengkapi dengan mushollah yang kumuh.

Toiletnya pun kurang terawat. Tak sebanding dengan kondisi jalan raya (seperti jalan tol di surabaya) yang mulus dan benar-benar bebas hambatan. Sepanjang jalan, hanya kami dapati bus dan ‎​sesekali truk dan kendaraan pribadi. Dan para supir bus dengan disiplin menjalankan kendaraan sesuai rambu dan marka jalan.

Memasuki perjalanan ronde kedua, pemandanganpun masih sama… Monoton dengan padang pasir tandus, tak ada rumah penduduk, tak ada gemerlap lampu. Ah… Tidur lagi ah…

Jam 10 malam hingga jam 1 dini hari, kami tiba di kota Madinah Al Munawaroh. Dengan rasa kantuk yang tertahan dan hawa dingin yang merasuk, kami turun dari bus dan segera menurunkan barang bawaan yang bejibun!

Kami ditempatkan di hotel “Al Syahbah tibah” yang cukup bagus tapi perawatannya kurang layak. Jarak hotel hanya 300 km dari masjid Nabawi. Rata-rata satu kamar yang berukuran 3 x 5 m (sudah termasuk 1 kamar mandi dalam) ditempati oleh 4 orang. Lumayan bagus jika dibandingkan dengan pondokan di Bakhutmah.

Cuma, ditiap blok kamar tidak disediakan dapur, padahal para “hajjah” sudah prepare dengan bawaan alat masak, kompor, lengkap dengan bahan bahan sembako. ‎​Urusan makan, para jamaah cukup dimanjakan dengan disediakannya katering berupa nasi, lauk, sayur, buah dan air putih. Lebih dari lumayan, walaupun porsinya “mini”, rasanya juga “mini”, tapi karena rasa lapar yang selalu “maxi”, jadilah acara makan bersama menjadi acara yang ditunggu-tunggu oleh para jamaah.

Jatah katering selama di Madinah hanya dua kali sehari, makan siang ba’da dhuhur dan makan malam ba’da isya’. Untuk sarapan pagi, ada beberapa alternatif. Beberapa kelompok jamaah haji “memaksakan” diri memasak ala kadarnya di selasar depan kamar. Beberapa mencoba menu makan pagi di cafetaria hotel. Sekotak nasi hanya 3 SR, tapi porsinya hanya cukup untuk meengisi seperempat volume lambung! Atau ada juga jamaah haji yang menyeberang mencari santapan yang lebih oke. Dengan modal hanya 8 SR, kami bisa menikmati menu Indonesia di warung Si Doel yang rasanya cukup lezat. Menu favorite di warung Si Doel ini adalah bakso, selain nasi goreng, kare dll.

Cuaca di Madinah sudah memasuki musim dingin. Di pagi hari, dinginnya sampai menusuk tulang. Ditambah lagi angin yang tanpa permisi berlalu lalang disekitar kami, membuat hawa dingin memaksa menyerobot masuk melalui pori pori kulit, menerobos masuk, menyelinap diantara urat nadi hingga ke mampu membekukan seluruh aliran darah di sekujur tubuh. Kami pun hanya bisa melipat erat kedua tangan diatas dada dan mengangkat pundak sambil menggigil… Bbbrrrrghhh…

Dalam kondisi seperti ini kami tetap bersyukur. Bersyukur karena selama ini kami hidup di Indonesia tanpa harus menggunakan baju hangat di pagi hari, dan tanpa menggunakan topi ataupun payung di siang hari. Ah, nikmat Allah memang tiada terhitung nilainya..

Coba seandainya Allah mewajibkan kita untuk selalu melafalkan “Alhamdulillah” di tiap nikmat yang kita rasakan, maka tiap detik kita harus mengucap syukur alhamdulillah! Bersyukur atas ketersediaan oksigen di udara bebas.

Coba bayangkan seandainya sehari saja, kadar oksigen di udara habis… Atau turun menjadi hanya 5% (normal 21%)? Bersyukur atas keteraturan frekuensi napas kita yang sehari 20 kali permenit.

Coba bayangkan kalau otak kita lengah atau lupa mengintruksikan paru-paru untuk melakukan tugasnya? Coba bayangkan seandainya jantung kita lalai melaksanakan fungsi memompa darah, 30 detik saja! Bisa fatal akibatnya… “Fabiayyi aalaa irob bikumaa tukaddzibaan…?”

Kegiatan para jamaah selain menjalankan sholat lima waktu sebayak 40 kali waktu sholat dengan berjamaah di masjid Nabawi (jamaah biasa menyebut dengan kegiatan “arbain”), ziarah alias city tour dan yang paling banyak menghabiskan waktu: jalan-jalan mencari cindera mata!

Seperti apa keindahan masjid Nabawi? Bagaimana detail acara city tour? Apa saja yang dicari jamaah untuk oleh-oleh? Nantikan reportase berikutnya (InsyaAlaah)

Share